Setelah menempuh perjalanan selama empat hari penuh, Naruto dan Sakura akhirnya tiba di Desa Suara. Namun, mereka tidak serta-merta menuju menara tinggi yang menjulang di tengah desa itu. Keduanya sadar, menyerang tanpa persiapan hanya akan berujung pada kegagalan.
Mereka memilih bersembunyi sejenak, memulihkan tenaga, sekaligus menyusun rencana penyerangan. Sakura memecah keheningan dengan suara tegas namun tenang.
“Untuk sekarang kita istirahat dulu,” ujar Sakura. “Setelah itu kita susun rencana dan baru melakukan penyerangan. Dan ingat, Naruto, kita mulai serangan dengan meriah. Gunakan tiga puluh bayanganmu untuk melemparkan shuriken sebanyak mungkin ke arah lawan. Setelah itu, seperti biasa, kita berdua bekerja sama melumpuhkan sebanyak mungkin musuh yang ada.”
Naruto mengangguk mantap. Ia mempercayai strategi Sakura sepenuhnya.
Setelah beristirahat dan memastikan kondisi mereka kembali prima, Naruto dan Sakura pun melancarkan rencana yang telah disusun. Serangan dibuka dengan ledakan chakra. Tiga puluh Bunshin Naruto bermunculan serentak, melesat ke arah menara tinggi dan melemparkan shuriken secara bertubi-tubi, menciptakan hujan senjata yang mematikan.
Namun, apa yang mereka temukan di dalam menara membuat keduanya terkejut.
Tidak ada pasukan. Tidak ada penjaga. Di sana hanya berdiri satu sosok.
Itobou.
Pria bertubuh raksasa itu berdiri tenang, seolah telah menanti kedatangan mereka sejak awal. Dengan satu ayunan gada besar di tangannya, Itobou menangkis seluruh shuriken yang dilemparkan para Bunshin Naruto. Logam beradu dengan dentuman keras, memantul ke segala arah.
Tanpa memberi kesempatan, Itobou langsung menyerang balik. Setiap ayunan gadanya menghantam Bunshin Naruto satu per satu, menghilangkan mereka dalam kepulan asap putih. Dalam hitungan detik, seluruh bayangan lenyap seolah tak pernah ada.