Ibu mati malam kliwon. Kerap para setan turut menghadiri pemakaman ibu. Sedangkan aku tidak bisa menangis saat wajah ibu telah tertanam tanah. Ayah telah pergi saat aku kecil sehingga aku tak terlalu suka membicarakannya. Dia tak penting. Sedangkan para saudaraku sibuk mengurusi warisan yang ditinggal ibu, dengan jumlah yang tak seberapa. Aku mengabaikannya dan membiarkan abangku mengambil sebanyak yang ia inginkan.
Hari perkabungan berakhir dalam tiga hari dan dengan demikian para setan yang berurusan dengan ibu kini harus berurusan denganku.
“Di hari jumat kau harus menimang anak kami dan memberinya makan.”
Setelah kepergian ibu, ada hari-hari khusus di mana aku harus mengurusi para setan. Misalnya si Kunti atau Wewe Gombel yang menculik anak-anak setiap malam jumat dan aku harus mengurusi anak-anak itu sebelum para warga mulai mencarinya. Di malam kliwon, para setan akan berkumpul dan mulai menjelaskan kebutuhan mereka sebagaimana manusia semestinya. Tugas itu entah mengapa hanya turun kepada anak perempuan pemilik mereka.
“Lalu di malam tahun ganjil perpindahan ke genap, akan ada perjamuan para setan. Kau mengertikan maksudku?”
Kunti kembali berbicara, ia bermaksud menyatakan jika di malam tahun kabisat akan ada perjamuan kumpulan setan. Selayaknya konferensi pers dan aku harus hadir sebagai orang yang menuruni darah empunya para setan. Kunti ini seperti sekretaris ibu dahulu, yang mengingatkan setiap kegiatan yang harus dihadiri ibu di hadapan para setan.
“Sejak manusia menjadi lebih setan dari setan itu sendiri kau harus mendengarkan kami.”
Aku menghela napas panjang, lantas menyalakan sigaretku. Kubuka jendela dan bersender di sofa untuk melihat keluar. Para tetangga yang selalu bergunjing atau mungkin ada laki-laki yang membawa perempuan lain di kehidupannya untuk bercinta.
Tahun itu hari kelahiranku, di waktu yang bersamaan ibu membuat perjanjian dengan para setan perempuan sebagai syarat kelahiranku menadi normal. Ibu mengkhianati serikat kumpulan setan dan bersatu dengan kumpulan setan perempuan. Semua sejarah itu ibu jelaskan saat aku berumur dua belas tahun sejak aku mendapati haid pertamaku dan ibu membuka mata batinku supaya bisa berbicara dengan kumpulan setan perempuan. Jadi lebih singkatnya, aku dan mereka sudah kenal sejak kecil.
Kami pindah rumah di pesisir provinsi, di mana para setan lebih banyak berkumpul di sana, dengan budaya magis yang masih banyak dikenali. Ibu menjadi jagoan kemudian sebagai gantinya ayah pergi meninggalkan kami karena tak kuat diganggu oleh para setan. Dia penakut.
Ibu selalu menggunakan gamis hitam dan hijab hitam, mendatangi kajian-kajian, kemudian kesibukan lainnya ada bersama para setan perempuan. Kalau singkatnya, ia yang membela hak-hak para setan perempuan. Bagaikan seorang feminis saja.
“Kau harus menikah.” Wewe kini berbicara. Ia menatapku dengan penuh semangat seolah ia juga siap meniduri suamiku nanti.
Aku menatapnya dengan serius, dan membalasnya dengan cepat. “Tidak perlu. Yang kalian butuhkan ada di aku.”
“Kau ini lebih membosankan daripada ibumu, ya?”