Perjamuan Para Setan

Diva Aelah
Chapter #2

Bangkai Yang Menghilang

“Suster menghilang.”

Para setan berkumpul lagi malam ini di ruang rapat. Kunti membuka suara duluan setelah aku duduk di kursi yang biasanya diduduki oleh Ibu. Mereka terlihat sedih dan kecewa, tak pernah mereka bayangkan jika salah satu dari mereka akan menghilang tepat setelah kepergian Ibu. Justru itu yang menjadi ketakutan mereka sebelumnya. Bahwa para setan akan menghilang. Alasannya mereka mulai menyalahkan tetangga sebelah yang selalu berdoa-doa hingga larut malam. Bahkan saat mereka makan siang doa mereka merembes hingga rumah kami.

Suster biasanya bekerja di malam hari, dekat rumah sakit sekitaran pantai, sebab di sana banyak turis asing. Dia binal, jadi bisa saja masih tertinggal dan lupa untuk pulang.

“Apa kalian sudah memeriksa di tempatnya bekerja?”

“Tidak ada.” Tuyul berbicara. Si Tuyul selalu berkeliaran di mana-mana, tentu saja dia kemungkinan melihat di mana keberadaan Suster. “Terakhir dia memang bekerja, tetapi setelahnya dia sudah pulang. Suster hilang tadi pagi, saat tetangga kita berdoa untuk dijauhkan dari para setan.”

Aku termangu mendengarkannya. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa saat ia menjelaskannya.

“Maria, apa kau akan melindungi kami seperti ibumu?”

Aku mengernyitkan dahiku, menggenggam erat bajuku lantas mengangguk. “Aku akan berusaha.”

.***

Aku mengenakan baju merahku yang panjangnya selutut, dengan kalung rosario di leherku. Ketika malam tiba, kuputuskan untuk menuju rumah tetangga kami. Ketukan pertama, tidak ada suara yang menjawab, begitu juga pada ketukan kedua, ketika hendak mengetuk untuk yang ketiga kalinya, pintu terbuka, menampakkan sosok pria yang bukan Yohan. Ia lebih tinggi daripada Yohan, dengan garis luka di alisnya. Ia jujur terlihat lebih tegas daripada Yohan.

“Tetangga sebelah ya? Ada perlu apa?”

Aku terdiam, sontak mundur beberapa langkah. Memikirkan bagaimana ia mengeahui jika aku adalah tetangganya sedangkan yang menemuiku semalam hanya Yohan. Aku juga belum ada keluar dari rumah sejak kemarin. Pria ini aneh.

“Teman serumahku menghilang.” Tuyul di sebelahku yang mendengarkan kalimatku lantas berusaha masuk ke dalam rumah itu, tetapi seketika ia terhempas cukup jauh. Aku terdiam kembali, berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan. “Ia berambut panjang dengan baju putih terakhir pergi. Jika kamu menemukannya di suatu tempat mungkin kamu bisa mengabariku.”

Aku memberikan kartu namaku kepadanya, jari kami bersentuhan, memberikan rasa panas pada tubuhku dengan perasaan yang tidak terlalu menyenangkan. Biji mataku menoleh sedikit ke dalam, energinya tidak menyenangkan, semuanya terlihat gelap di sana, seakan lampu tak dibiarkan hidup sebentar saja.

Lihat selengkapnya