Dinding tua itu seolah bernapas dalam kesunyian yang mencekam. Kerak cat yang mengelupas tampak seperti luka yang dibiarkan terbuka terlalu lama.
Maria duduk mematung sambil menatap kursi kosong di hadapannya. Jemarinya yang keriput mencengkeram pinggiran meja kayu yang mulai lapuk.
"Apakah kau lapar lagi, sayang?" bisiknya pada kegelapan.
Kegelapan itu tidak menjawab, namun hembusan angin dingin tiba-tiba menyapu tengkuknya. Suasana pengap di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat menyesakkan.
Udara dingin itu seolah membawa aroma melati yang sudah layu dan membusuk. Maria memejamkan mata dan mencoba menangkap suara gesekan kain yang sangat halus.
"Aku tahu kau di sana, bersembunyi di antara bayangan lemari," Maria berkata dengan nada yang sangat lembut.