Pasi dan pucat, Maria membawa boneka itu menuju meja makan dengan langkah kaki yang terseret. Ia meletakkan Lulu di kursi kayu yang dilapisi bantal kain usang.
Tangan tuanya yang gemetar mulai meraih teko keramik berisi air kecokelatan. Aroma melati yang kuat menguar bersama uap yang menari ke langit-langit ruangan.
"Duduklah dengan tenang, Ibu sudah membuatkan minuman kesukaanmu," ujar Maria dengan suara yang lirih.
Ia menuangkan cairan itu ke dalam cangkir kecil di depan boneka porselen tersebut. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti dapur yang hanya diterangi lampu minyak yang redup.
Maria menatap lekat-lekat pada mata kaca Lulu yang berkilau terpantul cahaya api. Ia seolah menunggu reaksi dari benda mati yang baru saja dirasakannya berdenyut itu.
"Kenapa kau hanya diam saja dan tidak meminumnya?" tanya Maria dengan dahi yang berkerut.