Perjanjian Terlarang Sang Pewaris Stone

Titah Kesumawardani
Chapter #2

2. Topeng yang Terbuka, Hati yang Terkunci

Langkah kaki Lucas yang menjauh meninggalkan keheningan yang jauh lebih mencekam daripada badai yang mengamuk. Sophia masih terpaku di tempat, telinganya berdenging tak henti oleh bisikan menjijikkan yang baru saja diucapkan pria itu. Namun saat ia memberanikan diri mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kerja ayahnya, rasa mual yang hebat seketika menghantam ulu hatinya.

Di atas meja jati kuno—tempat ayahnya biasa meneliti cetak biru bangunan dengan penuh kesungguhan—kini berserakan benda-benda yang tak pantas ada di sana.

Sophia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan yang gemetar hebat. Matanya menangkap sepasang borgol perak berlapis sutra hitam yang tergeletak persis di samping tumpukan dokumen bisnis milik ayahnya. Tak jauh dari sana, terlihat pula cambuk kecil bergagang kulit dan beberapa benda lain yang tak asing baginya—meski tak pernah ia bayangkan akan melihatnya di rumah sendiri, apalagi di ruang kerja ayahnya.

"Ya Tuhan..." bisiknya parau. Air mata mengalir semakin deras membasahi pipi. "Bagaimana mungkin... Di sini? Di tempat Daddy bekerja?"

Tiba-tiba, isak tangis Emily yang terdengar begitu pilu seketika terhenti. Suasana ruangan berubah drastis. Emily bangkit berdiri, menyeka air matanya dengan kasar, lalu merapatkan jubah tidurnya untuk menutupi tubuhnya. Rasa takut yang sempat melumpuhkannya kini lenyap, berganti dengan kemarahan defensif yang meledak-ledak.

"Berhenti menatap benda-benda itu seolah kau adalah hakim paling suci di muka bumi ini, Sophia Elara Hayes!" bentaknya. Suaranya melengking, tajam, dan penuh duri.

Sophia tersentak kaget. Ia menatap ibunya dengan pandangan tak percaya. "Mommy... Kau memarahiku? Setelah apa yang baru saja kulihat? Setelah Mommy membawa benda-benda menjijikkan ini ke meja kerja Daddy? Dan membawa pria asing itu ke sini tanpa rasa malu sedikit pun?!"

"Kau yang lancang!" Emily melangkah maju, manik matanya berkilat penuh kebencian yang tak masuk akal.

"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini tanpa mengetuk pintu dulu? Siapa yang mengajarimu mengintip urusan pribadi ibumu sendiri?!"

"Urusan pribadi?!" Sophia tertawa histeris di tengah tangis yang makin pecah. "Mommy berselingkuh dengan pria lain saat Daddy sedang berjuang mempertaruhkan nyawa demi kita di luar kota, dan Mommy menyebutnya urusan pribadi?! Kau adalah panutanku, Mommy! Kau adalah standar bagaimana seharusnya aku menjadi wanita! Tapi sekarang... Mommy tak lebih dari wanita murahan yang tega mengotori rumah suamimu sendiri!"

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Sophia, membuat kepalanya tertoleh ke samping. Rasa perih dan panas segera menjalar di kulitnya yang putih bersih, namun luka di hatinya terasa jauh lebih menghancurkan daripada rasa sakit fisik apa pun.

"Mommy menamparku... demi pria itu?" suaranya bergetar, nyaris tak terdengar seperti bisikan yang hancur.


Emily tertawa—tawa kering yang terdengar begitu dingin dan tajam di telinga Sophia. Ia berjalan santai menuju meja kerja, mengambil sisa batang cerutu milik Lucas yang masih tergeletak di sana, lalu menghirup aromanya perlahan seolah itu adalah wangi paling mahal yang pernah ia temukan.

"Berhenti bersikap dramatis, Sophia. Aku muak melihat wajah suci yang kau warisi dari ayahmu yang lemah itu," ucapnya tajam. Matanya kini berkilat penuh ambisi yang tak lagi disembunyikan. "Kau kira aku mencintai Richard? Kau kira pernikahan ini adalah dongeng bahagia yang kau bayangkan?"

Sophia menggeleng perlahan, bibirnya bergetar. "Apa maksudmu, Mommy? Kalian selalu terlihat begitu..."

Lihat selengkapnya