Perlahan dua kelopak mata Naya terbuka, segala hal di hadapannya terasa asing, ia melihat sekeliling hanya sabana yang luas dengan angin yang menyapu helaian rambutnya. Jauh di ujung sana seorang pemuda yang terlihat serba hitam menatap tajam. Gadis itu memicingkan matanya berusaha mengenali siapa orang itu.
"Naya..." Suara berat yang samar memenuhi telinganya, gadis itu tersentak. Ia mematung. Jantungnya menjadi semakin cepat berlarian. 'Wusss' hawa panas dari nafas seseorang mulai menggelitik lehernya. Gadis itu mulai merinding, perlahan tubuhnya memutar ke belakang, saat kepalanya menengok seketika matanya terbelalak. Ia ditarik kembali pada realitas, matanya mengenali langit-langit kamar dengan bercak hitam bekas bocor.
"Nay, Naya, bangun udah subuh." Tangan Riska terus menggoyangkan lengan Naya. Sementara gadis itu justru tengah mengatur nafasnya. Ia menengok ke arah seniornya itu, "Iya Riska aku udah bangun." Suaranya lemah tapi masih sampai ke telinga sang senior.
"Segera wudhu ya dan siap-siap bentar lagi kita ke mesjid." Setelah mendapat anggukan Naya, Riska lalu beralih ke ranjang Lea dan Zia yang masih terlelap nyenyak.
04.40 subuh
Di bawah langit abu, para santri senior telah beri'tikaf di mesjid dari sejam yang lalu. Sementara itu beberapa santri junior terlihat berlarian menuju mesjid, termasuk Riska yang harus menyeret Lea dan Naya yang masih setengah sadar. Di belakang Zia yang juga masih sempoyongan malah jongkok, Riska yang mengetahuinya segera kembali dan menarik gadis berwajah tegas itu.
Pada akhirnya mereka sampai di mesjid setelah adzan selesai. Pagi itu setelah Shalat Subuh kegiatan dilanjutkan dengan tadarus bersama, lalu ceramah dari Kang Firman.
Hari-hari dilalui Naya tanpa semangat, awalnya ia hanya berusaha mengikuti peraturan dan kegiatan seperti mengalir begitu saja. Namun, setelah beberapa hari ia mulai merasa lelah karena harus bangun subuh, mengaji sampai pagi, masuk kelas, cuci baju sendiri tanpa mesin cuci, piket masak, bahkan piket bersih-bersih.
*****
Pagi itu di hari minggu, setelah selesai mengaji mereka kembali ke kobong.
"Temen-temen seperti biasa hari ini jadwal kerja bakti. Kalian bisa istirahat selama 1 jam, aku mau rapat dulu sama santri senior lainnya, jangan lupa siap-siap ya." Riska beranjak pergi, setelah pintu tertutup Naya merebahkan diri di kasur dan tanpa sadar terlelap.
"Naya, bangun Nay." Samar-samar ia mendengar namanya dipanggil, setelah terbangun Riska menyuruhnya segera bersiap, rupanya tanpa sadar ia telah menghabiskan waktu 1 jam untuk tidur.
*****