perjuangan seorang ayah.

SAKSI PENA
Chapter #1

Bab 1 bahagia keluarga.

Sore menjelang malam itu, sinar matahari sudah mulai terbenam. cahaya menuju malam sudah mulai menyelimuti atap seng rumah kecil di pinggir kampung, menghasilkan pemandangan gelap yang hanya di sinari oleh lampu kecil berwarna kuning, seperti detak waktu yang tidak peduli pada isi rumah di dalamnya.


Rumah itu sederhana. dindingnya tidak sepenuhnya rapat, beberapa bagian kayu sudah mulai lapuk dimakan usia. lampu di ruang utama redup, cukup untuk menerangi meja kecil dan dua kursi kayu yang kakinya mulai tidak seimbang.


Abian baru saja pulang tubuhnya masih penuh debu semen, terutama di bagian bahu dan celana kerjanya. helm proyek ia letakkan di dekat pintu, basah oleh sisa hujan. wajahnya tampak lelah, matanya sayu, namun ada sesuatu yang lebih berat dari sekadar letih fisik beban pikiran yang tidak selesai sejak pagi.


Bian duduk perlahan di kursi kayu, lalu menghela napas panjang di balik pintu dapur kecil, Herlina berdiri diam cukup lama, tidak ada suara panci atau aktivitas memasak seperti dulu ketika suasana rumah masih hangat. yang ada hanya keheningan yang terasa semakin menekan.


Airin, anak perempuan mereka, duduk di lantai ruang tengah sambil memeluk boneka lusuh yang mulai sobek di bagian lengan, matanya sesekali bergerak dari Ayahnya ke Ibunya, seperti sedang mencoba memahami sesuatu yang belum bisa ia mengerti, Bian membuka suara lebih dulu dengan perlahan.


"Hari ini proyeknya belum dibayar penuh," ucapnya pelan.


Herlina langsung menoleh, tatapannya tidak marah, tetapi menyimpan kelelahan yang sudah menumpuk terlalu lama.


"Belum dibayar penuh lagi? Sudah berapa kali Mas bilang itu?" tanyanya dengan suara datar.


Bian menunduk. Ia mengusap wajahnya dengan tangan yang masih menyisakan debu pekerjaan.


"Aku sudah tanya ke mandor, Katanya minggu depan baru ada pencairan."


Kalimat itu bahkan tidak terdengar meyakinkan bagi dirinya sendiri, membuat Herlina menarik napas panjang lalu berjalan mendekat ke meja.


"Minggu depan, minggu depan. kita sudah hidup dari janji seperti itu selama beberapa bulan terakhir." ungkap kecewa Herlina.


Bian terdiam tidak bisa menjawab apa apa, di sudut ruangan Airin mengangkat bonekanya.


"Ayah..."


Bian langsung menoleh sambil senyum.


"Iya, Nak?"

"Boneka Airin sobek Yah."


Airin memperlihatkan bonekanya dengan kedua tangan mungilnya, Bian tersenyum kecil hatinya terasa perih karena belum mampu membelikan boneka baru untuk putrinya.


Lihat selengkapnya