Suatu petang, April 1815 M
± 400 mil dari Pulau Perak,
“Vrij Buiter... Vrij buiter... illano… illano!” Seorang mualim meneriakkan adanya ancaman dari atas anjungan.
Kapten kapal, dengan sigap memerintahkan para kelasi memandu haluan kapal ke arah sebaliknya. Ternyata, kapal besar berjenis galleon dan berbendera Belanda itu, tidak selincah yang diharapkan. Beberapa menit kemudian, dua kapal bajak laut yang hanya berukuran 60 kaki, berhasil menghentikan mereka. Salah satu meriam dari kapal para bajak laut mengenai badan kapal sebelah kanan.
Pada dua tiang layar perahu para lanun itu berkibar layar segi empat yang dibuat dari kajang. Beberapa rentaka ditaruh melintang pada lambung kanan dan kiri kapal. Terdapat lebih dari 20 orang pendayung yang duduk di atas bangku kecil beralaskan tikar. Dengan dayung pandak itu, kapal itu dapat bergerak dengan sangat cepat ke segala arah. Karena untuk tujuan itu pula, buritan kapal itu dibuat lancip sekali. Dengan begitu, perahu pangjajap milik bajak laut itu justru lebih tangkas dan cepat dalam berperang.
Kapal para bajak laut memang lebih kecil ukurannya dari kapal sasaran mereka. Namun kegesitannya justru menjadi senjata utama. Kapal besar berisi puluhan penumpang yang hendak menuju Barus itu oleng tak mampu meloloskan diri. Kapal kecil milik para bajak laut itu segera merapat. Tambang-tambang setebal selang dilempar dari arah buritan kapal, sehingga menyambungkan dua kapal dengan erat. Tak seberapa lama kemudian, belasan bajak laut sudah naik ke atas geladak kapal dagang VOC itu. Reka aksi para bajak laut Selat Malaka selanjutnya seumpama adegan peperangan para pendekar dalam dongeng yang dilisankan nenek moyang.
Langit biru semakin membuncah, diselingi angin timur yang menghentak-hentak. Cuaca yang terlalu tenang itu tak mampu menenangkan penumpang kapal yang ada di atas dek. Seisi kapal ruah seketika. Seorang wanita yang ikut berlayar mulai menjerit tak karuan. Sementara itu, penumpang pria berlarian ke kanan kapal. Satu dua warga Belanda yang terlampau panik, segera meloncat ke lautan. Seorang pedagang berwajah Timur Tengah yang ikut menumpang hanya bisa tertegun dengan kantung emas di dekapnya. Maka, tak sulit untuk dua orang bajak laut menebas kepalanya untuk merebut kantong emas itu.
Kecuali itu, sang navigator merasa ada yang tidak beres. Seolah-olah alam menyiuli perasaan mencekam padanya. Perasaan yang dirasanya bukan diakibatkan oleh maut yang mungkin dihadirkan para perompak yang sedang bergerombol naik ke kapal mereka kini. Namun sesuatu lain yang mungkin lebih kejam dan fatal. Secepat kilat, pria Hausa itu menuruni tangga ruang kemudi menuju lambung kapal.