Wilayah Pelabuhan Feri Nongsa Pura, Batam
Awal April
Seorang pria muda keluar dengan wajah masam dari ruangan yang tersamarkan itu. Rambut gondrongnya berantakan seperti telah dijambak paksa. Kantong celana jeans sebelah kanan menyembul keluar karena sudah tidak ada lagi uang yang dia punya.
“Gimana?” Ujar seorang pria penjaga yang seragamnya mirip portir hotel.
“Biasalah, kalah lagi!” Jawab lelaki yang putus asa tadi, sambil keluar dari gedung hiburan itu.
Gedung hiburan itu serupa kafe, namun tampak restoran bonafide dari luar. Nuansa pernak-pernik dengan tema pelayaran dan bajak laut, jelas sangat menarik perhatian para pengunjung yang kebetulan lewat. Sudut-sudut depan gedung sengaja dibuat transparan dengan dinding kaca tebal. Akan tetapi, tidak semua orang tahu isi gedung itu sebenarnya, selain hanya tampak luarnya sebagai tempat makan biasa. Sebagian kalangan tertentu saja yang mengetahui aktivitas khusus yang terdapat di dalam bangunan berlantai dua itu. Bahkan, tidak ada suara musik-musik hip hop atau elektronik-disko yang menjadi ciri khas gedung hiburan. Justru yang pertama kali terdengar pada saat pelanggan melewati pintu masuk otomatis adalah lantunan musik klasik nan lembut yang mengelus-elus gendang telinga.
Itulah gedung The Shipwreck.
The Shipwreck memang dibangun dengan konsep seolah restoran kapal pesiar di darat. Sebuah arsitektur gedung hiburan yang menandakan bahwa pemiliknya memang menyenangi bidang kelautan dan harta karun. Dan, konsep itu berhasil diwujudkan di kota Batam ini.
Begitu berada di lantai dasar gedung The Shipwreck, pelanggan seolah berada di restoran Jepang di atas laut. Suasana kafe begitu tenang dengan banyak pegawai ramah menyambut. Ada banyak tawaran menu seafood dipromosikan di atas meja pesan. Lantai ruangan dibuat semirip mungkin dengan kapal-kapal pelayaran dari era pelaut yang berlapis eboni awetan. Langit-langitnya pun penuh dengan aksesoris persis di dalam yacht. Hanya saja, semua akan terasa ganjil jika melihat banyak sekali poster-poster besar bergambar kartun bajak laut yang menyekat ruangan lain di sebelah Selatan ruangan utama. Gambar-gambar kartun itu ternyata semacam kamuflase yang menghiasi pintu masuk menuju ruangan khusus untuk gelanggang permainan (gelper) perjudian. Ternyata, meski bergambar kartun, yang main ketangkasan justru orang dewasa. Dan di ruangan kedap suara itu keadaannya bertolak belakang degan ruangan pertama tadi. Begitu riuh dan gaduh.
Suara tawa yang berbeda, sayup-sayup terdengar dari lantai dua gedung. Di sebuah ruangan terbatas mirip kantor, dipasang logo bertuliskan “JANGAN DIGANGGU” di depan pintunya. Dua orang penting sedang berbincang serius siang itu.