Medan, 11 April
Hujannya memang masif. Padahal jarum pendek waktu sudah menunjuk angka 9, namun jarak pandang malah kembali sangat berkabut.
Sebenarnya, Ritchnoer malas benar pergi keluar hotel. Terlebih, agenda yang sudah dibuat hari ini dibatalkan sepihak oleh sang kawan secara tiba-tiba. Pikirannya berubah drastis setelah menyaksikan siaran berita parabola di salah satu saluran televisi lokal daerah Palembang, tadi pagi. Sebuah laporan jurnalistik yang memaksanya gatal untuk melawan hari. Sebuah tayangan singkat mengenai liputan berita bermuatan arkeologis yang betul-betul membuatnya penasaran. Hingga dia bertaruh, cuaca ekstrim pancaroba, bukan lagi halangan untuk harga sebuah informasi yang mungkin akan dia dapatkan.
Dialah Sudjatmiko. Pemuda itu tiba-tiba memutuskan untuk menunda reuni pertemuannya dengan Ritchnoer. Sudjatmiko beralasan harus meliput berita secara mendadak sebagai laporan akhir untuk sekolahnya. Sudjatmiko memang sedang belajar menjadi seorang kameramen magang pada saluran televisi lokal. Sudjatmiko harus menyelesaikan laporan PKL-nya sebagai prasyarat kelulusannya di salah satu politeknik swasta jurusan Teknik Komputer di Palembang. Maklum saja, Sudjatmiko mengambil lagi gelar diploma di usianya yang ke-24. Makanya, teman-teman kampusnya menyebut Sudjatmiko sebagai kakak tertua.
Kedekatan mereka terjadi pasca-perkenalan tidak sengaja ketika bertemu di pinggiran kota Clayton, Australia, pada Agustus tahun lalu. Peraih beasiswa summer short course di Australia dari kampusnya itu mendapati nasib buruk saat pulang ke apartemennya di malam hari. Sudjatmiko pun tidak percaya dia menjadi korban perampokan di negara dengan angka kriminalitas yang nyaris nol itu. Tas beserta dompetnya dirampas oleh dua orang lelaki yang mencegatnya di sebuah gang.
Di sanalah, Sudjatmiko “terpaksa” berkenalan dengan seorang pelancong dari Belanda. Wenk van Ritchnoer, yang melihat kejadian itu, segera berlari dan menolong Sudjatmiko. Sudjatmiko selamat tanpa luka, tetapi para penjahat jalanan itu kabur dengan segala harta rampasannya. Setelah melapor ke kantor polisi, keduanya pun berkenalan dan berbincang dengan akrab di kantor polisi.
Pertemanan itu berlangsung sampai sekarang. Sampai akhirnya, Ritchnoer menjadwalkan diri untuk berkunjung ke Indonesia, seperti janjinya pada Sudjatmiko bulan lalu. Ritchnoer sebenarnya punya darah asli Indonesia. Neneknya berdarah Sunda dan meninggal dua tahun setelah Ritchnoer dilahirkan. Selain itu, Ritchnoer pun ingin mencari keberadaan ibunya, seorang etnograf Asia Tenggara, yang juga menghilang sejak tiga tahun lalu. Kabar yang sering didengarnya dari sang ayah di Belanda: Doktor Elis Leiding merupakan ilmuwan yang paling dicari oleh banyak kalangan akademisi karena penelitian-penelitiannya mengenai pencarian warisan pusaka bumi peninggalan kerajaan kuno. Sebelum menghilang, sang ibu dikabarkan sedang melakukan penelitian di sebuah daerah pedalaman di Sumatera.