Areal Persawahan Banyu Asin, Sumatra Selatan
Oktober 2011
Siang yang cukup terik untuk memulai masa olah tanah. Lasmidjan beristirahat sejenak di dekat pohon kapas besar di ujung areal sawahnya.
Pria 54 tahun itu telah hampir seperempat abad lamanya menjadi warga Banyu Asin. Konon, ketika gaung program transmigrasi masih digalakan presiden terdahulu, Lasmidjan-lah, peserta pemerataan penduduk angkatan pertama. Ia sudah tidak ingat lagi bagaimana rupa kampung halamannya di Sleman.
Kini, Lasmidjan seharusnya sudah tenang dan senang. Usaha pertaniannya dapat dibilang cukup berhasil. Butuh lebih dari satu dekade memang untuk mengolah lahan tidur di Sumatera Selatan ini menjadi areal tanam padi. Tidak mudah memulainya, tetapi dengan tekad dan kerja kerasnya, wilayah Desa Margomulyo mendapat predikat Desa Lumbung Padi di Sumatera Selatan. Dan semua itu bermula dari kerja keras pria satu anak ini.
Kesuksesannya menginspirasi banyak petani lain dari daerah asal di Jawa. Banyak warga tetangga Lasmidjan ikut mengadu nasib menjadi transmigran. Bahkan, kabar kesuksesannya sampai ke telinga-telinga petani lain dari daerah-daerah Malang, Sragen, Kudus, Tuban, dan Tegal. Oleh karena itulah, Desa Magromulyo ini terkesan seperti desa di Jawa. Dengan hampir 95 persen penduduknya merupakan petani migran dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Desa Margomulyo serupa Chinatown di negeri asing. Hanya yang ini keturunan Jawa.
Tetapi tak seperti juragan sawah lain di Jawa, Lasmidjan masih mau terjun langsung ke sawah miliknya. Padahal jumlah petani penggarap milik Mbah Lasmidjan sudah mencapai enam orang untuk dua puluh are luas sawahnya.
Seperti saat ini, Lasmidjan berencana mengubah salah satu petak sawahnya menjadi tambak udang. Rencana tersebut tentu pula tidak mudah direalisasikan. Lagi-lagi, tekad Lasmidjan sudah bulat. Di usia senjanya, petani tua ini ingin mengajarkan kepada para pekerjanya agar punya alternatif usaha lain, selain menanam padi tentunya.
Duda yang sudah tiga belas tahun ditinggal sang istri ini mengatakan bahwa agar hidup itu berhasil, jerih payah harus dirasakan sendiri. Prinsip ini pula yang pernah ingin diwariskan kepada anak semata wayangnya. Sayang, sang anak tidak mudah menerima prinsip keras ayahnya ini. Terlalu banyak perang dingin di antara mereka. Ahmad Midjan, sang putera semata wayang, kini jauh tinggal di Jawa.
“Katanya, anakmu sebentar lagi selesai kuliah es dua-nya ya, Mbah?” Aji menekuk lututnya sambil menghirup rokok kreteknya dalam-dalamnya. Aji bekerja untuk Lasmidjan sudah lebih dari tujuh tahun. Sebetulnya, Aji merupakan salah satu transmigran yang sama-sama merantau di waktu yang sama dengan Lasmidjan. Sayangnya ,hidupnya berbeda 180 derajat dengan Lasmidjan. Aji tidak terlalu beruntung. Tanah garapannya justru dijual kepada Lasmidjan untuk melunasi utang-utangnya kepada bank.