Mentawai, 11 April
Pukul 15.37 WIB
Perempuan penyiar itu sebentar-sebentar menepuk-nepuk kedua pipinya, lalu membuka kaca kosmetik. Polesan bedak di wajahnya ia rapikan dengan tergesa-gesa. Setelah merasa cukup pantas bersolek, jemari kanannya ia letakkan di bawah leher jenjangnya melewati kain kerudung warna merah marun yang diselempangkan dengan bros perak. Sambil mengetes intonasi dan getaran suara yang pas untuk uraian lintas beritanya hari ini, ia mengedipkan-ngedipkan mata, meminta tanda kesiapan. Sementara itu, sang kameramen yang baru tiga pekan dipasangkan dengan penyiar cantik itu belum siap dengan kaset rekaman 8 mm yang masih dipasangkannya.
Kameramen itu mengangguk, lalu mengangkat tangannya dengan memberi kode. Pada hitungan ketiga, suaranya masih terdengar, tetapi setelah hitungan mundur sampai pada angka dua dan satu, hanya gerakan bibir sang kameramen saja yang dapat terbaca.
“Pemirsa, seperti yang telah kita ketahui bersama, Pulau Besar Sumatera beberapa hari lalu, lagi-lagi diguncang gempa tektonik berkekuatan 6,6 SR. Gelombang laut dahsyat yang tercipta akibat pusat episentrum gempa di kedalaman laut sekitar kepulauan Mentawai, sampai hingga ke beberapa wilayah pesisir Sumatera Barat. Kejadian yang mengingatkan kita dengan bencana besar tsunami besar Aceh satu dekade lalu.”
Sementara itu, pada tabung televisi berlogo Serambi TV di rumah-rumah yang menyaksikannya, gambar langsung beralih pada inset dari ulasan berita itu; tampak cuplikan-cuplikan lahan pesisir yang porak-poranda. Sejenak, beberapa pasang mata saling membisu melihat pemandangan yang tragis tentang rekaman sapuan dahsyat tsunami itu. Banyak di antara mereka yang masih trauma dengan kejadian serupa yang lebih besar, satu dekade sebelumnya.
Sementara itu, di tempat yang dibahas dalam berita itu, kameramen berita memperbesar wajah pemuda tegap berkulit cokelat matang. Dari kulit yang khas akibat terlalu sering terbakar sinar matahari itu, penonton televisi langsung tahu bahwa pria yang disorot adalah seorang nelayan.
Di lain sisi, perempuan penyiar itu mengalihkan gerakan tangannya dari tepian laut ke arah pemuda yang dimaksud. Sambil mengerling kecil, perempuan itu lalu memperkenalkan sosok di sebelahnya.
“Namun, pemirsa baru-baru ini, seorang warga bernama Sidik Nurohim dikabarkan menemukan sebuah kapal karam unik pascatsunami. Kapal karam yang diduga berasal dari abad ke-19 ini terbawa arus bawah laut hingga hampir mencapai daratan. Sejumlah harta karun zaman dulu diklaim warga tersebut telah ditemukan di dalam kapal. Seperti yang telah kami konfirmasikan sebelumnya, di dalam kapal tersebut terdapat banyak artefak keramik, kalung emas, dan berbagai jenis fosil rempah-rempah yang berharga.
Kapal itu sendiri, menurut pengakuan Sidik, awalnya ditemukan oleh pamannya yang tengah menyelam mencari ikan hias. Sidik mengatakan, pamannya menemukan kapal kayu itu setelah melihat tiang kapal, 6 kilometer dari pantai Pulau Pagai Selatan, Mentawai, tempat di mana tsunami menghantam paling parah.”
“Saya langsung menyelam ke dalam air begitu mendapat berita dari paman saya. Saya menemukan kendi dan beberapa pot keramik di lambung bangkai kapal.” Ujar si nelayan muda sambil menghindari mikrofon yang terlalu dekat dengan mulutnya. Diselingi senyuman yang ringan, Sidik seperti grogi dengan tangan kiri yang memijit-mijit bahu kanannya.
“Sampai saat ini, kami belum dapat mengonfirmasikan penemuan benda penting ini kepada pihak Badan Arkeologi Pusat maupun Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.
Dara Fonna Mantovani dan kameramen Sudjatmiko melaporkan langsung dari Mentawai.”
Sejurus itu, gambar menangkap kesan manis dari simpul bibir si penyiar. Orang-orang jadi lupa berita apa yang dibahas baru saja.