Pelabuhan Batam,
1 Januari
Tiga orang pria dengan lengan berotot sedang duduk-duduk di balik bayangan kapal kargo besar yang membuang sauh di Pelabuhan Batam Center. Mereka langsung ngacir begitu mandor pelabuhan mendekat. Cuaca terik Sabtu itu terbilang ekstrim untuk para penduduk tropis Kepulauan Riau. Bagaimana pun, begitu perintah bongkar muatan datang, para kuli angkut barang harus siap bermandi peluh di bawah terik matahari untuk menurunkan barang dari Kapal Kargo milik si Bos Besar. Kebanyakan dari kuli angkut itu telah enam tahun bekerja di Pelabuhan itu. Jika beruntung, para kuli angkut ini akan naik jabatan. Itu berarti kenaikan upah berkali-kali lipat. Entah kenaikan jabatan apa yang Bos Besar Suciwati maksudkan. Akan tetapi, seperti itulah Suciwati Pasaribu mengiming-imingi para budak modern itu dengan muslihat janji. Dan mereka percaya.
Suciwati Pasaribu terlampau mashur di bisnis perkapalan tanah air. PT Karya Kencana miliknya, sudah mengantongi izin usaha Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) sejak seperempat abad lalu. Dalam laman perusahaan tersebut, PT Karya Kencana termasuk 5 perusahaan teratas se-Asia dalam bidang jasa pengangkutan dan pengiriman barang ke seluruh penjuru nusantara dan Asia dengan pelayanan prima.
Hanya saja, bukan itu saja prestasi Pasaribu dalam membesarkan bendera PT Karya Kencana. Di beberapa rekanan bisnis cargo shipment, Pasaribu dikenal sebagai penyeludup barang-barang tak berizin lintas negara. Kepiawaiannya dalam membina hubungan baik dengan birokrasi di hampir 13 negara Asia, menyulitkan Interpol untuk menjeratnya atas tuduhan Penggelapan Bea Masuk Barang dan Transaksi Ilegal lainnya. Oleh karena itulah, di kalangan terbatas, Suciwati Pasaribu dicari dengan sangat mahal untuk menjadi kurir barang-barang ilegal masuk ke suatu negara.
“Hei, kalian cepat kembali berkerja!” Teriak salah satu mandor Bos Suci. Bos Suci, begitu biasa para awak pelabuhan memanggilnya, mengikuti di belakang sang mandor.
Seorang kuli angkut yang hampir saja terlelap karena lelah, jadi terpaksa kembali membelalakkan matanya. Suciwati berjalan pongah di antara kontainer besar di Pelabuhan Batam Center. Cerutu di antara telunjuk dan jari tengahnya belum sempat dinyalakan. Panas terik dan hawa kering berdebu, membuat keinginan merokok jadi tertunda.
Beberapa saat kemudian, sebuah feri berbendera Singapura menepi di dekat kapal yang sedang sibuk menurunkan barang.
“Kukira, kau sudah berada di Kolombia untuk mengejar harta karun buruanmu?” Ujar Suciwati mendekat pada feri yang melempar sauh. Setelah saling berhadapan, mereka saling berjabat tangan.
Pria tua yang diajak bicara dikenal sebagai The Butcher, sahabat sekaligus salah satu konsumen termahal yang menyewanya sampai saat ini.
“Penerbanganku tertunda. Orang-orang di negaramu sungguh mengecewakanku. Pesawatku delay hanya karena bandara sempat mati listrik.” Pria tua itu marah dalam bahasa Inggris aksen Australia yang kental. “Aku sampai harus ke Singapura lewat laut untuk menjadwal ulang penerbanganku.”