Perkamen Sanada

Panji Pratama
Chapter #7

Bab 6 - Perjalanan Ritchnoer Mencari Sang Ibu

Hotel Palembang, 12 April

09.45 WIB

 

Huff..”, tangannya dijulurkan ke atas lemari hotel. Kemarin malam, kunci motor yang difasilitasi sang kawan dari tempat penyewaan motor di Medan, ia taruh di tempat itu. Dua jarinya menari, mencari-cari barang yang dikehendaki. Sambil sedikit tersungging, dia langsung loncat bergegas ke lift menuju basement hotel. Lututnya sempat ditekuk sambil diusap-usap sebentar, begitu terantuk meja ruang tamu. Namun, rasa sakit itu tidak diindahkannya.

Wenk van Ritchnoer, jurnalis fotografi harian Volks Krant yang baru dua hari menetap di Sumatera. Kunjungan pertama ke Indonesia ini langsung dipakainya untuk mencari fakta keberadaan sang ibu yang menghilang sejak tiga tahun lalu.

“Nenekmu meninggal dunia saat kau masih mengompol di celana. Nenekmu sering bercerita tentang negerinya. Sebuah negeri yang dijanjikan dalam kitab-kitab kuno. Sebuah negeri asal kebudayaan dan wujud gambaran surga di dunia.” Ucapan sang ibu masih terngiang-ngiang sejak Ritchnoer kecil.

Ritchnoer memacu motornya di kecepatan 70 km per jam. Motor berkopling serupa belalang sentadu itu menjadi motor bermerk Jepang yang cukup digemari konsumen muda di negara ini. Sayangnya, motor seperti itu agak berguncang saat handle gas akan diputar maksimal.

Di Palembang, lalu lintas pagi sepadat kota besar lain di Indonesia. Padahal semalam, hujan begitu lebat. Hujan di awal pergantian musim cukup untuk membuat aspal provinsi licin. Ratusan motor berderu bersamaan di antara perempatan lampu hijau lalu lintas Bilah Barat. Hal itu mungkin karena motor lebih populer di seluruh jalanan nusantara. Maka, pantaslah produsen kendaraan Jepang mau memindahkan pusat perakitan utamanya ke Indonesia.

Sambil berkelit ke kanan dan kiri bahu jalan, pikiran Ritchnoer kembali menerawang. Dari berbagai referensi yang ia kumpulkan, banyak artikel yang menunjukan keistimewaan dan keunikan tanah yang ia pijak sekarang.

“Ibumu?” Kini ingatan Ritchnoer berganti ke wajah ayahnya ketika ia menanyakan tentang keberadaan ibunya yang menghilang tiga tahun lalu. “Mungkin ibumu tertarik dengan kisah-kisah yang pernah diceritakan nenekmu. Ibumu selalu tertarik asal mula peradaban manusia, karena itulah ibumu mengambil kuliah Arkeologi. Karena itu pulalah, ayahmu ini dulu menyukai ibumu. Kami bertemu di Yale. Dan, dia sangat cantik saat memaparkan kajian Asia Tenggaranya.”

Ritchnoer masih ingat mata Tuan Fredrick van Ritchnoer, sang ayah, sesaat setelah menjelaskan pandangannya tentang sang ibu. Ritchnoer senior sempat menerawang hampa, teringat kisah-kisah asmara sebelum bercerai.

“Kupikir kau pun mewarisi darah itu. Takdirmu memang berasal dari negeri timur jauh itu. Di dalam nadi ibumu dan mungkin pula kau, menderas titisan umat penguasa dunia, darah Bangsa Sundaland. Atau paling tidak, ibumu menemukan sisi lain dari wajah dunia yang selama ini dia lihat dan rasakan. Eropa terlalu mapan bagi ibumu...,” hela sang ayah sejenak, “pikirannya itu yang hendak kutebak. Dia lebih senang melihat masyarakat yang masih memetik pucuk teh sebelum fajar menyingsing. Dia benci kalau berita televisi isinya tentang iklan kapitalisme. Matanya berbinar saat tetangganya yang sama-sama berkulit langsat, menyapanya sepulang belanja. Itulah nenekmu..., tidak, tidak, itulah ibumu. Seorang misterius yang meninggalkan kita dengan cerita-cerita utopis. Seorang yang pergi tanpa kabar dan tanpa meninggalkan sedikitpun warisan pengetahuannya, bahkan padaku.” Sambungnya.

Di depan lampu merah menyala. Sudah tiba di daerah Rengat. Ritchnoer kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Kaki sebelah kiri, ia sandarkan ke aspal menahan badan motor, sementara jemari kanannya memijit beberapa nomor tujuan. Di layar ponsel tertera nama Ir. Effendi Rubyandini. Tidak menunggu lama, orang yang dihubungi menimpali. Ritchnoer terlihat hanya mengagguk-angguk. Kemudian motornya, ia palingkan ke arah belokan sebelah kiri. Di bahu jalan terpampang plang ‘belok kiri langsung’. Ritchnoer kembali memacu motornya memakai jalan memutar yang lebih cepat.

Lihat selengkapnya