Perkumpulan Hantu Penasaran

Marindya
Chapter #1

Prolog

Kalau ada yang bilang jadi hantu itu enak karena tidak perlu membayar BPJS dan memikirkan cicilan Paylater, tolong suruh mereka untuk mati dulu dan rasakan sendiri. Karena nyatanya, urusan hantu bisa jauh lebih pelik dibanding milik manusia.

Seperti yang sedang dialami empat hantu penghuni gedung tua bekas kantor distributor tekstil ini, misalnya. Meski papan seng bergelombang yang memagari tapak proyek baru dipasang dua hari lalu, tetapi bagi mereka ini sudah seperti sebuah vonis mati yang kedua. Ibarat sudah mati, tertusuk seng pula! Bagaimana tidak, gedung yang sudah menjadi tempat tinggal mereka selama berpuluh-puluh tahun ini tiba-tiba akan dirobohkan, dan dibangun ulang menjadi lahan parkir.

Sambil menatap pada seng-seng jauh di hadapannya, Siti duduk di atas kursi plastik berwarna merah yang salah satu kakinya sudah diganjal batu bata. Jemarinya tak berhenti menyisir rambutnya yang lepek, hingga beberapa helai tampak jatuh pada daster lusuhnya.

“Gue bilang juga apa,” gumam Siti, dengan suaranya yang parau. Dia bertingkah seolah sedang mengunyah permen karet, meski tidak ada apa-apa di dalam mulutnya. “Kagak bisa kita geser ke seberang. Pohon beringin dekat lapangan itu udah diisi Kunti Merah senior. Kemarin malam gue baru maju tiga langkah udah disembur bau bangkai. Galak betul.”

“Lha terus mau ke mana lagi?” Pak Po yang berdiri bersandar di pilar beton ikut menyahut. Tubuhnya kaku, terbungkus kain kafan berdebu yang ikatan di atas kepalanya sudah longgar dan miring ke kiri. “Makam sebelah barat juga penuh. Om Wowo sama rombongannya nggak mau bagi tempat, mereka cuma mau enak sendiri. Kita ini mau diusir dukun sakti sebelum proyek pembangunan dimulai, kok bisa lu semua masih pada santai di mari, sih? Takut-takutin tukang nasi goreng di ujung komplek kek, biar kita bisa tempatin gubuknya!”

“Ya lu mikir dong, Pak Po!” Siti melotot. “Lu enak tinggal loncat-loncat, orang-orang pada kalang-kabut. Gue nih, jalan dikit aja keringetan setengah mati. Rambut lepek begini mana bisa nakut-nakutin orang lagi di zaman sekarang? Yang ada gue dikira orang gila yang belum mandi seminggu!”

Kagos, yang sejak tadi selonjoran di lantai berdebu di pojokan, hanya menatap teman-temannya bergantian. Bau sangit seperti getah kayu terbakar samar-samar tercium setiap kali dia bergerak. Kulitnya hitam legam seperti arang, membuat kemeja kusam yang melekat di badannya seolah menyatu dengan dirinya.

“Udah, nggak usah pada berisik,” kata Kagos pelan. “Dunia manusia udah makin padat. Bumi udah nggak ada sisa lapak lagi buat orang mati modelan kita. Kita pasrah aja, lah, gimanapun kedepannya. Mau di bawah jembatan kek, di makam barat dan ditelan Om Wowo kek, gue udah nggak peduli.”

Lihat selengkapnya