Tidak ada yang bisa mengalahkan indahnya menjadi pengantin baru. Warna langit tampaknya seolah lebih cerah dari biasanya, suara klakson yang bersahutan di siang bolong terdengar seperti nyanyian cinta romantis, bahkan masalah-masalah hidup yang menyesakkan terasa lebih ringan karena tidak lagi dilewati sendirian.
Begitu pula yang dirasakan Tinah dan Seno, pasangan yang baru saja menikah lima bulan lalu. Di usia pernikahan yang masih seumur jagung ini, Tinah sudah mengandung. Katanya, janin Tinah masih seukuran buah stroberi, tetapi sudah terdengar detak jantungnya. Selama dua bulan mengandung, Tinah terus merasa mual. Selain lebih sering sakit kepala dan demam, Tinah juga terus merasa sedih ketika Seno pergi bekerja, hingga tak jarang ia sampai menangis. Bawaan janin, katanya. Padahal, Tinah adalah perempuan yang jarang menangis. Ia terbiasa hidup mandiri, karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia ketika dirinya masih duduk di bangku SMA.
Karena perubahan inilah, Seno rela menjual satu-satunya motor bebek yang ia punya demi bisa pindah dari rumah orang tuanya. Mereka menyewa sebuah rumah yang dekat dengan kantor Seno, agar ia bisa pulang saat makan siang, atau kapan saja ketika ada keadaan mendesak.
“Nah, apa kubilang, Dek? Dari sini ke kantor Mas cuma lima menit kalau jalan kaki.” Suara Seno terdengar dari pintu depan yang terbuka separuh. Laki-laki itu masuk sambil memanggul lemari kayu lipat yang sengaja dibeli bekas. Meski napasnya agak terengah, tapi senyumnya merekah lebar. “Jadi kalau kamu mendadak pusing atau perutnya kram, Mas bisa lari pulang. Nggak perlu nyetir jauh-jauh, apalagi nunggu angkot.”
Tinah terkekeh sambil mengelus perutnya yang masih rata.
“Ya jangan lari juga, Mas. Nanti dikira orang-orang ada kebakaran,” sahut Tinah. Ia mengambil kain lap, lalu menyeka keringat di pelipis suaminya. “Tapi kontrakan ini apa nggak kemahalan, Mas? Kita juga perlu nabung buat lahiran, kan?”
“Nggak apa-apa agak mahal, yang penting kamu aman dan nyaman. Urusan biaya lahiran, sudah Mas perhitungkan. Masih ada waktu buat menyisihkan uang.” Seno mulai merangkai lemari kayu dengan obengnya yang sudah berkarat. “Lagian, Pak Tohar bilang, atap dapurnya mau dibenerin, Dek. Lumayan, kan? Kita nggak perlu keluar uang lagi untuk perbaikan. Semuanya ditanggung Pak Tohar. Baik ya, dia?”
Baru saja nama itu disebut, suara langkah kaki berat terdengar beradu dengan kerikil-kerikil di halaman rumah. Pak Tohar tidak mengetuk pintu, ia hanya batuk-batuk dengan suara yang berlebihan.
“Seno! Ini kunci cadangannya ketinggalan di saya!”