Kalau ditanya hal yang paling melelahkan selama menjadi hantu, bagi Pak Po jawabannya adalah pergi ke sebuah gunung yang jauh dari Jakarta, tengah malam, bersama rombongan hantunya yang gemar mengeluh.
Malam ini, Pak Po sudah melompat untuk ke 132 kali. Kalau saja pergi sendirian, mungkin ia hanya butuh sekitar tiga belas lompatan jauh. Masalahnya, selain Pak Po hanya Siti yang bisa melayang dan berpindah tempat sama jauhnya. Kagos dan Ayul yang hanya berpindah sekitar satu kilo setiap kali menghilang, benar-benar membuat Pak Po dan Siti harus berkali-kali berhenti melayang-layang demi menjaga kebersamaan geng hantu ini.
“Gue bilang juga apa, Pak Po!” Siti mengomel sambil terus mengelap keringat yang terus mengucur deras dari pelipis dan belakang lehernya. Setiap kali melayang rendah, daster lusuh Siti bergesekan dengan tanah, menimbulkan suara srek-srek yang mengganggu. “Harusnya kita numpang mobil bak sayur aja! Ini malah milih melayang-layang gini, udah tahu Kagos dan Ayul cupu. Lu lihat nih, daster dan rambut gue! Basah banget kayak kecebur kali!”
“Lu mikir dong, Siti,” sahut Pak Po yang baru saja mendarat untuk ke 133 kalinya. Dia menoleh ke belakang, menunggu Kagos dan Ayul yang terus saja tertinggal di belakang. “Kalau kita numpang di atas kabin mobil bak, terus sopirnya ngelirik spion terus jantungan di tempat. Mobilnya masuk jurang, dia dan keneknya mati barengan. Yang ada arwah mereka ngikut kita. Mau lu nambah-nambahin rombongan arwah terluntang-lantung di gedung kita? Hah?”
Alih-alih menjawab, Siti memilih untuk memajukan bibirnya sambil menatap Pak Po dengan mata yang tampak hampir keluar, saking lebarnya ia melotot.
“Udah, nggak usah pada berisik,” kata Kagos yang baru saja muncul tepat di belakang mereka. Tiap kali Kagos muncul, ada jejak asap tipis beraroma getah kayu terbakar yang menguar samar-samar. “Tuh, lihat di depan sana. Suasana kompleks keramatnya udah kelihatan. Gerbangnya udah dekat.”
Di samping Kagos, Ayul mulai berjalan dengan langkah kakinya yang kecil-kecil. Bocah botak berkulit pucat itu sesekali mendongak, memperhatikan lampion-lampion merah yang tergantung di sepanjang deretan warung yang menjual bunga-bunga dan pekarangan pesanggrahan.
Meski sudah tengah malam, gunung ini sama sekali tidak sepi. Justru, semakin larut, suasana semakin hidup. Berbeda dengan gunung-gunung pendakian anak muda yang penuh tawa dan deru kompor portable, gunung ini dipenuhi oleh kepulan asap kemenyan yang bergulung-gulung di udara dingin, aroma minyak srimpi yang pekat menusuk hidung, serta wajah-wajah manusia yang terlihat tegang dan muram.
Mereka adalah rombongan pemburu pesugihan.
Info tentang kuncen sakti gunung ini sebenarnya mereka dapat dari obrolan dua pemuda yang nongkrong di pelataran minimarket sambil menikmati kopi murah minggu lalu. Kata mereka, kuncen di makam keramat gunung ini punya ilmu menerawang yang tembus sampai ke tujuh turunan. Bisa melihat nasib, memanggil roh leluhur, dan bisa diajak berkomunikasi dengan makhluk halus dari bangsa apa saja.
Bagi empat arwah yang frustrasi karena amnesia total ini, si kuncen adalah secercah harapan terakhir. Logika mereka cukup sederhana. Kalau manusia hidup saja bisa meminta nomor togel, mencari barang yang hilang, sampai meminta melipatgandakan uang ke kuncen itu, harusnya mencari tahu nama asli dan identitas empat hantu terlunta-lunta ini perkara sepele, kan?
“Pohon Dewandaru... Pohon Dewandaru...” Ayul mengeja pelan papan kayu petunjuk jalan yang sudah agak lapuk di tepi tangga. “Pak Po, Pohon Dewandaru itu yang bisa menjatuhkan uang, ya?”
Pak Po menghentikan lompatannya sebentar, memperbaiki letak ikatan kain kafan di atas kepalanya yang makin miring ke kiri. “Bukan jatohin uang, Yul. Katanya kalau ada daun atau buahnya jatuh, terus lu simpan di dalam dompet, rezeki lu lancar,” jawab Pak Po dengan nada sok tahu. “Tapi itu buat orang hidup. Buat orang mati modelan kita, mau nyimpan daun di mana? Jangankan nyimpan daun dalam dompet, nangkepin daunnya aja gue nggak bisa. Lu liat tangan gue, keiket gini kayak sawi.”
Mendengar itu, Kagos dan Siti tertawa kencang, hingga membuat beberapa pemuda yang sedang berada di sekitar mereka saling brepandangan satu sama lain, sebelum akhirnya berlari terbirit-birit.
Hingga beberapa lompatan Pak Po kemudian, mereka akhirnya tiba di pelataran utama dekat makam keramat. Di bawah naungan pohon tua yang rindang, aroma dupa dan asap kemenyan rasanya sudah sepekat kabut pagi. Ada belasan manusia yang duduk bersila di atas tikar pandan, menghadap ke arah gubuk pendopo kecil tempat sang kuncen—seorang pria paruh baya berbusana adat Jawa lengkap dengan blangkon dan busana serba hitam—duduk bersedekap.
Di sekeliling gubuk itu, sesajen tertata rapi. Ada nampan bambu berisi buah-buahan segar, tumpeng kecil, kembang tujuh rupa yang mengapung di baskom, ayam panggang utuh, hingga botol-botol air doa berlabel tulisan Arab gundul.
“Awas lu pada, tahan napas. Jangan bikin ulah,” bisik Pak Po begitu mereka bersembunyi di balik pilar kayu besar pendopo. “Biar gue yang maju bicara duluan. Kuncen sakti kelas pesugihan begini biasanya punya benteng gaib tinggi. Kalau dia kaget atau ngerasa terancam, bisa-bisa kita dilempar pakai garam berajah atau disabet minyak penunduk.”
“Yakin lu, Pak Po?” Siti meragukan. “Ntar lu malah dijadikan pesugihan sama dia, dibungkus masukin botol sirup!”