Sembilan puluh sembilan persen masalah rumah tangga konon bisa diselesaikan dengan dua hal. Pelukan hangat di pagi hari dan secangkir teh manis dengan takaran gula yang pas. Yang satu persen lagi, biasanya hanya butuh kepastian kapan gaji bulan ini cair.
Bagas percaya betul pada rumus itu. Enam tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama Kinarsih, tidak pernah sekalipun ada piring terbang atau suara teriakan melintasi tembok kontrakan kecil mereka. Pasangan itu seperti dua belah batu kali di dasar sungai. Tenang dan saling mengikis sudut-sudut tajam masing-masing hingga tak ada lagi yang bisa melukai.
Pagi itu, suara derit rantai sepeda tua Bagas membelah keheningan gang perkampungan. Sepeda hitam peninggalan almarhum bapaknya itu sudah berganti pedal tiga kali, tetapi rangkanya tetap setia menemani Bagas mengajar di SMA Negeri 4.
"Gas, bekalnya ketinggalan!" Suara nyaring Kinarsih membuat Bagas mendadak menarik tuas rem belakangnya kencang-kencang. Sepeda itu berhenti mendadak dengan suara nyaring dari ban yang bergesekan dengan tanah kering.
Bagas menoleh, mendapati istrinya sedang berlari pelan dari arah pintu rumah. Rambut Kinarsih yang basah sehabis mandi diikat asal-asalan ke belakang dengan jepit plastik berbentuk kupu-kupu berwarna kuning. Daster bermotif batik cokelat yang dikenakannya berkibar pelan ditiup angin pagi. Di tangannya, ada rantang kaleng dua tingkat yang dibungkus kain serbet bersih.
"Makanya, kalau mau berangkat tuh napas dulu sebentar, jangan buru-buru," omel Kinarsih begitu sampai di samping sepeda Bagas. Napas perempuan itu sedikit terengah, meninggalkan jejak aroma sabun mandi dan minyak kayu putih yang sangat dihafal Bagas.
Sementara itu, Bagas hanya terkekeh, sambil menerima rantang itu lalu mencium punggung tangan istrinya yang agak kasar akibat gesekan sabun cuci setiap hari. "Ya maaf, Kin. Aku ada piket pagi hari ini."
"Alasan terus!" Kinarsih mencibir, tetapi tangannya merapikan kerah kemeja cokelat pramuka yang dipakai Bagas dengan cekatan. "Di dalam rantang ada oseng buncis sama tahu goreng. Nasi gorengnya sengaja aku taruh di bawah biar hangatnya awet."
"Istriku memang yang paling pengertian di seluruh kecamatan," puji Bagas, membuat pipi Kinarsih merona tipis. “Hari ini berangkat kerja naik becak saja, Kin. Takutnya rantai sepedamu lepas lagi.”
Kinarsih hanya menjawab dengan gelengan pelan. Mereka sudah sepakat untuk menghemat pengeluaran untuk sementara waktu, karena belakangan pendapatan mereka berdua sering tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, bagi Bagas, kenyamanan Kinarsih jelas harus menjadi prioritas. Makanya, ia tidak keberatan meski Kinarsih harus membayar ongkos becak setiap hari.
Diam-diam, Bagas menghela napas pelan sambil mengamati sepeda istrinya dari kejauhan. Sepeda itu memang sudah sangat tua, dibeli bekas dari tetangga dua tahun lalu, demi menghemat ongkos Kinarsih pulang-pergi bekerja sebagai kasir di swalayan besar di pusat kota.
"Nanti sore aku beli rantai baru, ya?" kata Bagas lembut. "Atau kalau aku ada rezeki lemburan dari sekolah, kita sekalian beli sepeda baru bulan depan."
"Nggak usah aneh-aneh deh, Gas!" sanggah Kinarsih cepat. "Uang tabungan kita kan fokusnya buat keperluan lain. Siapa tahu bulan ini kita beneran butuh buat biaya periksa ke dokter."
“Ke dokter? Kenapa? Kamu sakit?” Bagas menyentuh kening Kinarsih.
Sementara itu, istrinya justru menggeleng sambil mengulum senyum malu-malu. Matanya tampak berbinar memandang perutnya sendiri.
"Aku sudah telat hampir seminggu, Gas," bisik Kinarsih. "Biasanya kan aku telat paling cuma dua hari. Tapi ini dari hari Senin kemarin belum dapet juga. Terus dari kemarin lusa, tiap pagi kepala aku rasanya agak keliyengan, mual-mual dikit."
Jantung Bagas serasa melompat ke tenggorokan. Rasanya ada kehangatan yang mendadak memenuhi dadanya. Enam tahun mereka menunggu, melewati puluhan kali rasa kecewa, ribuan cangkir jamu tradisional yang pahit, dan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan dari kerabat tiap kali acara keluarga di kampung halaman.
"Beneran, Kin?" suara Bagas terdengar bergetar. Dia hampir melompat dari kursi sepedanya. Tangannya yang agak gemetar meraih kedua bahu Kinarsih. "Kamu udah tes pake alat yang panjang itu?"
Kinarsih tertawa sebentar, lalu menggeleng pelan. "Belum, Gas. Aku takut kecewa lagi kayak bulan-bulan lalu. Rencananya nanti sore pas pulang kerja, aku mau beli alat tesnya. Aku pengen kita cek bareng-bareng."
Bagas tersenyum lebar. Senyum paling lepas yang pernah terukir di wajahnya selama setahun terakhir. Ia mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang, lalu mencium singkat keningnya.