Dunia boleh saja berganti zaman dari kaset pita ke era serba digital. Namun satu hal yang tidak pernah berubah dari bangsa manusia adalah, mereka selalu punya cara kreatif untuk menjual hal-hal yang tidak bisa dilihat mata.
Di dalam sebuah ruangan tua bekas rumah sakit swasta yang atap sengnya sudah bolong-bolong diterpa hujan bertahun-tahun, empat arwah tanpa identitas itu kembali berkumpul. Mereka—kecuali Pak Po— duduk di lantai keramiknya yang pecah-pecah ditutupi debu tebal dan serpihan kaca. Malam ini, tempat yang biasanya sunyi itu menjadi semarak oleh pendar cahaya putih terang dari dua buah lampu berbentuk lingkaran berukuran jumbo yang dipasang di atas tripot.
“Cek mic, cek mic... Testing satu dua. Mas Bro, lighting-nya kurang ke kiri dikit! Muka gue jadi kelihatan agak buram nih. Meski temanya horor, gue harus tetap kelihatan ganteng!”
Suara nyaring itu datang dari seorang pemuda berusia dua puluhan awal. Dia mengenakan jaket oversized warna hitam, celana kargo dengan banyak kantong, dan lingkaran hitam tebal buatan make-up di bawah matanya—mungkin demi menciptakan efek 'anak indigo capek dikejar setan'. Di dadanya, tergantung beberapa kalung berliontin batu akik dan simbol-simbol aneh yang lebih mirip aksesoris dari toko perhiasan tak berfungsi ketimbang jimat gaib.
Dialah Raka Indigo, kreator konten misteri dengan jutaan subscribers yang tagline videonya sangat agung, “Menembus Batas Dua Dunia, Mengungkap Rahasia Alam Gaib!”
Siti bangkit dan berpindah duduk selonjoran di atas brankar besi tua yang sudah berkarat tak jauh dari tim produksi Raka. Daster lusuhnya dia kibas-kibas pelan. “Pak Po, lu yakin anak ini beneran bisa ngelihat kita? Tampangnya kagak ada wibawa-wibawanya sama sekali. Baju kombor gitu kayak orang mau joget hip-hop.”
“Lu jangan melihat orang dari sampulnya!” tegur Pak Po yang berdiri bersandar pada pilar beton. Kain kafan di kepalanya terus melorot ke arah kiri, hingga ia menelengkan kepala ke kanan berulang kali. “Zaman sekarang kan emang begini. Kata orang-orang di minimarket seberang, anak ini terkenal banget di HP. Dia bisa manggil roh, ngobrol sama genderuwo, sampai nanya nomor togel. Kalau dia bisa ngobrol sama genderuwo, ngobrol sama kita kan urusan kecil.”
“Tapi kok aura dia bau minyak wangi swalayan ya, bukan bau kemenyan?” gumam Kagos yang duduk bersandar di bawah brankar. Tangan gosongnya sibuk memainkan kabel rol hitam milik tim kamera Raka—walau jemarinya tentu menembus kabel itu berulang kali.
Di samping Kagos, Ayul hanya mengamati dengan mata bulatnya yang polos. Bocah botak itu memiringkan kepala melihat Raka yang sedang sibuk menoleh kesana-kemari.
“Siap ya? Dalam tiga, dua, satu... Action!” seru kru kamera yang memegang kamera DSLR besar dengan stiker branding nama Raka.
Seketika itu juga, raut wajah Raka berubah 180 derajat. Matanya yang tadi sibuk melirik ke segala penjuru mendadak terbelalak tegang, napasnya dibuat memburu, dan tubuhnya agak gemetaran.
“Halo, Guys! Balik lagi sama gue, Raka Indigo!” buka Raka dengan suara berbisik yang diberat-beratkan, sangat terkesan dramatis. “Malam ini, gue udah ada di lantai dua bekas Rumah Sakit Medika yang terkenal sangat angker. Menurut terawangan mata batin gue, di tempat ini, sedang berkumpul energi-energi negatif yang sangat kuat!”
Pak Po serta-merta mengulas senyum. Lagi-lagi, iia memperbaiki letak ikatan kain kafan di atas kepalanya yang miring ke kiri.
“Tuh kan, gue bilang juga apa!” bisik Pak Po bangga pada Siti. “Dia ngerasain keberadaan kita! Baru mulai aja udah kerasa energinya!”
Pak Po melompat mendekat, mendarat persis dua jengkal di samping Raka yang sedang menghadap kamera. Pak Po mencoba berdeham kaku. “Anu, Mas Raka. Jadi gini, kami ini bukan arwah rumah sakit sini, kami ini datang jauh-jauh dari—”
“AARRGHH!!” Tiba-tiba Raka mengerang keras sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Tubuhnya oleng ke belakang, membentur tembok berdebu.
Pak Po kaget setengah mati sampai melompat mundur dua langkah. “Buset! Kenapa lu, Mas? Kesetrum kabel?”