Perkumpulan Hantu Penasaran

Marindya
Chapter #6

Pak Tohar dan Andre, 1997

Pak Tohar tidak pernah menyukai panggilan telepon dari pihak sekolah. Bagi seorang duda yang membesarkan anak laki-lakinya sendirian dengan banyak sekali kekurangan sepertinya, dering telepon dari ruang guru biasanya hanya berarti satu hal. Andre kembali membuat masalah.

Dengan sarung yang diikat asal-asalan di pinggang dan sandal jepit sebelah hijau sebelah biru yang tertukar di teras, Pak Tohar melangkah lebar-lebar menelusuri koridor SMA Negeri 4. Langkah kakinya yang berat menghentak lantai ubin, membuat beberapa siswa yang berpapasan dengannya menepi dan menunduk takut. Sesampainya di depan pintu ruang Bimbingan Konseling, Pak Tohar langsung mendorong pintu kayu itu tanpa mengetuk.

"Andre!" suara Pak Tohar menggelegar, memotong keheningan ruangan dengan kipas angin yang bersuara berisik itu.

Seorang remaja laki-laki yang duduk di kursi kayu menyambut Pak Tohar dengan wajah yang benar-benar masam. Seragam putihnya agak robek di bagian kerah, dan ada bekas luka goresan panjang di pipi kirinya. Sementara di balik meja guru, seorang pria berkemeja cokelat pramuka yang rapi berdiri dari duduknya. Pria itu menyambut Pak Tohar dengan wajah tenang dan tegas di saat yang bersamaan.

"Selamat siang, Pak Tohar. Silakan duduk dulu, Pak," kata Bagas ramah, sambil menunjuk sopan kursi di samping Andre.

Namun, alih-alih duduk, Pak Tohar justru bergeming. Ia menatap Bagas dengan mata lebar yang menakutkan, lalu beralih menatap anaknya dengan napas memburu dari hidungnya yang lebar. "Kamu bikin ulah apa lagi, hah?! Mau bikin Bapak malu? Mau Bapak mati berdiri di rumah?!"

"Pak Tohar, tenang dulu," potong Bagas segera. Ia menghela napas pelan, lalu berdiri dan mencoba menenangkan Pak Tohar. "Saya Bagas, guru wali kelas Andre. Saya yang meminta Pak Tohar datang hari ini."

Pak Tohar mengalihkan pandangannya ke Bagas, sedikit terkejut mendapati wali kelas anaknya adalah pria yang masih sangat muda. "Kenapa Pak Guru? Ini anak bolos sekolah lagi?"

"Bukan bolos, Pak. Tapi berkelahi." Bagas menatap Andre sebentar, lalu kembali menatap Pak Tohar. "Jam istirahat pertama tadi, Andre mengganggu salah satu siswi di kelas sebelah. Putra Bapak menarik tasnya, lalu mengambil uang di dalamnya. Siswi ini mencoba melawan dan membela diri. Tapi Andre malah emosi dan memukul muka siswi itu."

Dahi Pak Tohar makin berkerut. "Mukul?"

Bagas mengangguk tegas, dan kembali duduk di kursinya. "Anak Bapak memukul siswi itu sampai pingsan di tempat dan hidungnya pendarahan. Sekarang anaknya masih dirawat di ruang PMR sekolah. Orang tuanya sedang dalam perjalanan ke sini, Pak."

Keheningan mendadak mengambil alih seluruh ruangan. Pak Tohar mematung sambil terus menatap Andre. Selama ini, Pak Tohar tahu anaknya nakal, malas belajar, dan suka keluyuran. Tapi memukul anak gadis orang sampai pingsan benar-benar sudah melewati batas yang bisa ia toleransi.

"Kamu mukul perempuan?!" suara Pak Tohar bergetar, bukan hanya karena marah, tetapi juga menahan malu. Namun, alih-alih menjawab, Andre justru mengeratkan giginya dan memalingkan wajah ke lantai ruangan itu.

Lihat selengkapnya