Menyambangi kediaman hantu senior saat berada di posisi terdesak adalah sebuah keputusan yang diambil dalam kepanikan, yang nyaris setara dengan menyerahkan diri ke dalam mulut buaya. Namun, di bawah embusan angin malam yang membawa aroma tanah kuburan basah dan wangi bunga kamboja, Pak Po, Siti, Kagos, dan Ayul tetap melangkah gontai membelah kompleks pemakaman umum. Makam tua ini jaraknya lumayan jauh dari gedung tua tempat mereka bersarang. Biasanya, empat hantu terlunta-lunta ini hanya melintas sesekali, ketika sedang bosan setengah hidup dan butuh sedikit hiburan. Sekedar mengganggu muda-mudi yang berpacara di tempat gelap, atau menonton warga yang sedang mengejar pencuri.
Bukannya mereka tidak mau berteman atau berkenalan dengan hantu lain. Hanya saja, sama seperti manusia, tidak semua penghuni alam gaib mau diajak bertukar sapa. Bahkan mereka juga terbagi dalam beberapa hierarki. Dalam geng gedung tua, Pak Po adalah pemegang tahta yang paling tinggi, karena konon di antara mereka berempat, pocong merupakan yang paling kuat dan ditakuti. Lalu, diikuti oleh Siti si kuntilanak, Kagos si hantu gosong, lalu terakhir Ayul, si hantu botak yang selamat dari dukun sakti yang suka menjual tuyul untuk peliharaan.
Meski geng hantu gedung tua memiliki Pak Po yang kedudukannya cukup menjanjikan, tetapi ia tidak ada apa-apanya dibanding kuntilanak merah, sundel bolong, apalagi genderuwo. Para hantu dengan kedudukan tinggi ini tidak mau berteman atau berinteraksi dengan sembarang hantu. Mereka hanya menyukai hantu-hantu yang memberikan keuntungan. Misalnya sanggup tunduk pada apa saja yang mereka perintahkan, atau yang bersedia mencari sesajen-sesajen untuk mereka.
Dan yang akan didatangi oleh keempat hantu terlunta-lunta ini adalah Om Wowo, genderuwo penghuni makam barat yang ditakuti oleh hantu mana saja yang berada di radius yang dekat dengan areanya. Ia mirip raksasa bertubuh tambun dengan bulu hitam lebat yang baunya mirip perpaduan antara kambing basah dan bangkai tikus yang terjemur.
Menurut desas-desus, ia sudah mendekam di bawah pohon beringin tua makam itu jauh sebelum gedung tua tempat tinggal mereka dibangun. Sikapnya sangat egois, tidak suka berbagi wilayah, dan punya reputasi mengerikan. Konon, Om Wowo bisa 'menelan' bulat-bulat para hantu berkedudukan rendah, kalau mereka berani membuat kegaduhan di sekitar areanya, hingga mereka bisa menghilang begitu saja tanpa jejak.
"Gue masih kagak yakin deh, Gos," bisik Siti penuh keraguan. Daster lusuhnya yang kelabu ia pilin-pilin pelan. "Lu yakin Om Wowo tahu sejarah kita? Tampang dia kan kayak batu kali berbulu, mana peduli dia sama urusan setan lain."
"Di antara semua hantu tua di distrik ini, cuma Om Wowo yang udah ada dari jaman Majapahit," jawab Kagos tenang. "Kalau kita mati di sekitar sini puluhan tahun lalu, pasti dia sempat dengar desas-desusnya. Yang penting sekarang, siapa yang mau maju duluan buat ngajak bicara?"
Seketika itu juga, tiga pasang mata—Pak Po, Kagos, dan Ayul—serentak menoleh lurus ke arah Siti.
Siti jelas membelalakkan matanya tak terima. "Ngapain lu pada ngeliatin gue?!"
"Lu kan cewek satu-satunya di rombongan kita, Siti," sahut Pak Po. Ia maju satu lompatan, lalu menyenggol bahu Siti perlahan untuk mencoba merayunya. "Om Wowo itu jomblo tua berabad-abad. Lu maju, pasang aksi genit dikit, goyang-goyang rambut, puji-puji bulu dadanya. Siapa tahu hatinya meleleh terus mau cerita, kabarnya dia suka dipuji!"
"Gila lu ya, Pak Po!" tembak Siti histeris, ia berusaha mengurangi suaranya hingga sepelan mungkin, agar tak terdengar ke tengah makam. "Gue disuruh ngerayu genderuwo buntal kayak gitu?! Muka gue mau ditaruh di mana?!"
"Daripada kita ditelan bulat-bulat sama dia?" Kagos menimpal datar. "Maju aja, Siti. Lu pasang senyum paling manis yang lu punya. Demi kita dapat petunjuk sebelum tembok gedung kita diratakan!"
Siti benar-benar merengut. Ia melirik Ayul yang mengangguk-angguk polos sambil mencabuti rumput pemakaman. Dengan berat hati dan napas memburu yang dibuat-buat, kuntilanak itu akhirnya menyerah.
Siti merapikan daster lusuhnya yang makin kusam, menyisir rambut panjangnya yang lepek basah menggunakan jemarinya, lalu mencoba menaikkan garis bibirnya membentuk senyuman manis yang jutek ala gadis-gadis majalah lama. Dengan langkah yang dibuat gemulai walau dasternya bergesekan kencang hingga menimbulkan suara yang mengganggu, Siti mendekati pangkal pohon beringin tua yang gelap gulita.
Di balik kerimbunan akar gantung beringin, dua bola mata merah menyala sebesar piring makan mendadak terbuka.
GROAARRRR…
Suara geraman berat dan bergetar membuat tanah di sekeliling makam serasa bergetar pelan. Sesosok makhluk raksasa bertubuh serba hitam, dengan perut buncit yang meliuk-liuk dan dua taring kekuningan mencuat dari bibirnya, merangkak keluar dari kegelapan. Perpaduan bau apak dan bangkai menusuk hidung Siti, hingga ia hampir saja melayang menjauh.
Sementara Siti masih berdiri dengan kikuk, Om Wowo menatapnya dengan mata merah yang galak dan penuh sinyal permusuhan. Siti menelan ludah susah payah. Namun demi menjalankan misi, ia memaksakan diri bersandar kaku di batang beringin, mengibaskan rambut lepeknya ke belakang bahu dengan gaya yang diusahakan terlihat seksi.
"Hai, Om Wowo..." bisik Siti dengan manja yang dibuat-buat. "Malam yang dingin ya, Om? Lagi sendirian aja, nih? Nggak mau nemenin Neng yang lagi kesepian?"