Menjadi janda di usia dua puluh tahun di tengah kota yang kian bising, tidak pernah ada dalam bayangan Tinah. Namun, hidup harus terus berjalan meski Tinah masih diselimuti oleh kabut duka. Terlebih ada nyawa lain di dalam perutnya, yang kini kian membesar dan butuh disuapi setiap hari.
Matahari baru saja membiaskan sinar keemasan dari balik deretan atap seng pasar tradisional, ketika Tinah menyusun kue-kue buatannya di atas meja kayu. Aroma ketan gurih, pandan segar, dan daun pisang yang dikukus, tipis-tipis menyeruak dari tampah bambunya.
Sejak kepergian Seno lima bulan lalu, Tinah tidak lagi punya waktu untuk terus meratapi nasib di sudut kontrakannya. Bahkan untuk memproses perasaan duka atas kehilangannya saja, Tinah seakan tak punya kesempatan. Dari sisa uang tabungan Seno dan sedikit bantuan tetangga yang datang melayat, Tinah mulai menjajakan kue-kue basah di sudut lorong pasar. Yang paling laris tentu saja lemper ayamnya. Beras ketannya pulen, gurih santannya pas, dan isian daging ayam suwirnya melimpah bercampur bubu ketumbar yang wangi.
"Mbak Tinah! Masih ada lempernya?"
Suara ramah itu menjeda kesibukan Tinah yang sedang mengelap meja. Ia mendongak, lalu senyum manis merekah di wajahnya yang agak pucat. Di depannya, Kinarsih berdiri mengenakan daster batik santai dan membawa keranjang belanja di lengannya.
"Eh, Mbak Kinar! Ada, Mbak, baru aja selesai dikukus tadi subuh. Masih hangat," sahut Tinah ramah. Tangannya dengan lincah menyambar pencapit dan bungkus plastik. "Beli berapa, Mbak?"
"Empat ya, Mbak Tinah. Seperti biasa," kata Kinarsih sambil merogoh dompet kainnya di dalam keranjang. "Mas Bagas itu kalau belum makan lemper buatan Mbak Tinah sebelum berangkat ngajar, rasanya kayak ada yang kurang katanya. Kadang kalau saya bikin sendiri di rumah, Mas Bagas bilang ketannya kurang pulen. Kalah jauh sama racikan Mbak Tinah."
Tinah terkekeh pelan sambil membungkus empat lemper hangat berlapis daun pisang yang harum. "Bisa aja Mas Bagas. Padahal bumbunya biasa aja kok, Mbak. Cuma ketannya emang direndam agak lamaan dikit biar empuk."
Tinah menyerahkan bungkusan lemper itu. Kinarsih menerimanya, lalu matanya tertuju pada perut Tinah yang kini sudah membuncit besar di balik daster longgarnya.
"Sudah jalan tujuh bulan ya, Mbak?" tanya Kinarsih pelan. Ia menatap perut itu dengan binar kagum dan kehangatan yang tak bisa disembunyikan. “Masih rewel?”
"Iya, Mbak Kinar. Masuk tujuh bulan minggu kemarin. Alhamdulilah si Kecil di dalam sudah nggak rewel. Sudah nggak pernah bikin saya mual kebangetan pas lagi ngukus kue," jawab Tinah sambil mengelus perutnya penuh kasih.
Kinarsih menatap perut membuncit itu dalam-dalam. Ada rasa haru yang mendesak dadanya, bercampur dengan sedikit kerinduan akan impiannya sendiri.