Melayang-layang lintas provinsi bukanlah hal yang menyenangkan bagi hantu-hantu ini. Energi Pak Po, Kagos, Siti, dan Ayul seakan terkuras habis. Kain kafan Pak Po semakin kumal, rambut Siti semakin lepek dan berbau apak, dan asap dari tubuh Kagos hanya tersisa tipis-tipis seperti rokok yang hampir habis.
“Ini ngapain sih, kita ke sini lagi?” protes Siti sambil melayang loyo di atas ranting pohon cemara. “Mending kita pasrah aja deh daripada kudu datang jauh-jauh ke sini lagi. Atau kita pindah rumah ke GBK aja, lumayan gue bisa nontonin Mas-Mas ganteng olahraga malem-malem.”
“Hush! Jangan ngeluh mulu, lu! Lu pikir GBK nggak ada penguasanya? Ada lah itu! Belum kapok lu sama kejadian Om Wowo?!” cerocos Pak Po dari bawah. Ia melompat-lompat menaiki tangga, menemani Ayul dan Kagos yang juga tampak loyo. “Gue masih yakin seratus persen, di tempat ini ada yang beneran sakti! Tiap malam ada ratusan orang yang kumpul. Ada yang nyari ilmu, ada yang tirakat, bahkan pesugihan. Dari sekian banyak orang pinter dan orang gila di sini, mustahil nggak ada satu pun yang bisa ngelihat kita!”
“Tapi beberapa waktu lalu, kita bertemu dukun penipu kan, Pak Po? Bagaimana kalau kita bertemu orang yang seperti itu lagi?” Kali ini, Ayul ikut bersuara.
“Itu kan cuma segelintir orang, Yul. Kalau kata manusia-manusia jaman now, itu oknum!” balas Pak Po tak mau kalah. “Tapi kan masih banyak manusia lain. Siapa tahu ada indigo beneran atau paranormal sakti yang datang berkunjung.”
Siti baru saja turun dan berdiri tepat di samping Kagos. Mereka berdua mengamati suasana sekeliling, mencoba menerka manusia mana yang tampak bisa membantu mereka. Lereng gunung malam ini dipenuhi wangi dupa, asap menyan yang pekat, dan wangi bunga mawar-melati yang mendominasi. Di sepanjang tangga dan pelataran pohon keramat, puluhan manusia duduk bersila. Ada yang memejamkan mata sambil komat-kamit khusyuk, ada yang menyepi di sudut remang-remang, dan tak sedikit yang menggelar piring-piring sajen berisi buah-buahan, kembang tujuh rupa, hingga makanan matang.
Melihat tumpukan sajen melimpah yang tak dijaga itu, napsu keempat hantu ini tergugah. Namun, sama seperti di makam tempat Om Wowo tinggal atau di tempat-tempat lain, gunung ini juga memiliki penghuni. Bahkan, jauh lebih banyak dari area makam, di mal-mal, atau di pasar tradisional. Jadi, mereka hanya bisa mendatangi tempat-tempat yang sedang kosong, atau hanya dihuni oleh hantu kelas kroco di bawah mereka.
“Mbak Siti,” panggil Ayul tanpa menoleh. Ia terus memandang piring-piring berisi makanan dengan binar mata yang benar-benar terang. “Ayul mau makan. Ada piring berisi tumpang mini dan telur rebus! Ada ayam panggang!”
Siti yang tadinya mengeluh dan terlihat loyo, mendadak langsung segar bugar. Matanya yang kemerahan melotot lebar melihat jajaran nampan sajen di bawah pohon besar.
"Buset! Ini mah prasmanan alam gaib! Pak Po, mampir dulu bentar mumpung di sana sepi! Laper gue!"
"Aduh, kalian ini malah mikirin perut!" omel Pak Po, tetapi ikatan kain di atas kepalanya mengangguk-angguk cepat. "Ya udah, sepiring berempat aja ya! Jangan rakus biar kita nggak digruduk penghuni lain!"
Tanpa menunggu komando kedua, empat hantu itu langsung menghambur ke arah salah satu nampan sesajen paling mewah yang diletakkan seorang pria paruh baya berpeci hitam, yang kini sedang khusyuk membakar kemenyan.
Tentu saja, sebagai hantu, mereka tidak memakan bentuk fisik buah atau nasi tumpeng itu. Siti merapatkan wajah lepeknya tepat di atas piring tumpeng, menghirup dalam-dalam "sari" aroma santan dan ayam panggangnya. Kagos mengisap uap hangat dari kopi tubruk, sementara Ayul mengendus-endus aroma ayam panggang dan mengambil beberapa untuk ia santap.
"Aaaah... mantap banget," gumam Siti lega, mengusap bibirnya dengan lengan daster, meski tidak ada apa-apa di sana. "Sesajen manusia-manusia yang datang ke sini lebih mewah!"
"Coba aja di dekat gedung tua ada tempat semacam ini!" Kagos menimpal pelan, menyenderkan tubuh gosongnya pada batang pohon dekat tampah sajen.