Perkumpulan Hantu Penasaran

Marindya
Chapter #10

Pak Tohar dan Tinah, 1998

Semakin lama, hari-hari yang Tinah lewati rasanya semakin mencekik. Rasa-rasanya tak cukup bagi Tuhan untuk mengambil satu-satunya orang yang Tinah cintai, satu-satunya keluarga yang ia punya. Belakangan, keadaan semakin tak menentu untuknya. Semua harga bahan pokok untuk membuat kue naik berkali-kali lipat hanya dalam hitungan minggu. Modal usaha kue basahnya tergerus habis. Jumlah lemper dan kue lain yang sanggup dibuatnya menyusut tajam, sementara daya beli langganannya di pasar pun ikut kempis.

Banyak yang mengingatkan Tinah untuk mengadakan acara tujuh bulanan, untuk mendoakan keselamatan dan kesehatan si jabang bayi dan calon ibunya. Namun jangankan mengadakan acara yang tentu membutuhkan tak sedikit uang itu, membayar kontrakan saja Tinah mulai kesulitan, meski sudah menekan segala pengeluaran yang ada.

Siang itu, hawa panas merayap masuk lewat celah-celah jendela kontrakan Tinah. Hari ini ia tidak berjualan ke pasar, karena kepalanya pusing dan kakinya membengkak hingga ia kesulitan berjalan. Ibu-ibu tetangga Tinah mengingatkannya untuk berhati-hati, karena khawatir ada yang bermasalah. Mereka bahkan menyarankan Tinah untuk pergi ke dokter dan memeriksa kondisinya.

Tinah mengeluarkan dompet dari lemari, dan memeriksa isinya. Hanya ada tujuh puluh lima ribu. Tinah harus membayar kontrakan, dan mengumpulkan lebih banyak untuk biaya melahirkan. Tidak ada uang yang bisa ia gunakan untuk pergi memeriksakan dirinya ke dokter. Tinah merasakan matanya mulai panas. Di lantai kontrakannya yang sunyi itu, ia akhirnya menangis mengadu pada Tuhan. Tinah menyampaikan semua keluh kesahnya. Betapa menyesakkan hidupnya belakangan ini, betapa lelahnya ia menjalani semua sendirian.

Di tengah tangisannya yang memilukan itu, pintu rumah Tinah diketuk dengan sangat kencang. Ia sudah tahu bahwa Pak Tohar pasti akan mendatanginya untuk menagih uang sewa. Jadi setelah menghapus jejak air matanya, Tinah mengeluarkan uang sejumlah lima puluh ribu. Dan benar saja, Pak Tohar berdiri persis di hadapan Tinah sambil berkacak pinggang ketika ia membuka pintu itu.

“Maaf, Pak. Hari ini saya baru bisa bayar uang kontrakan yang bulan lalu. Yang bulan ini, saya usahakan minggu depan,” kata Tinah tanpa menunggu Pak Tohar bersuara.

Pak Tohar berdecak kesal mendengar penuturan Tinah. Meski begitu, ia tidak mengatakan apa-apa dan hanya menerima uang yang Tinah sodorkan.

“Tadi saya bikin soto kebanyakan. Panggil bapak-bapak tetangga, sepuluh orang aja buat doain bayimu.” Seperti biasa, suara Pak Tohar terdengar ketus. “Jangan bilang ke orang-orang kalau itu soto sisa! Suruh mereka ke rumah saya, biar doanya bisa khusyu. Tempatmu pengap!”

Pak Tohar berbalik begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Tinah. Sementara itu, Tinah sempat mematung beberapa saat untuk mencerna ucapan Pak Tohar. Pak Tohar mengadakan acara tujuh bulanan untukku? Begitu yang ada di dalam pikiran Tinah.

Lihat selengkapnya