Perkumpulan Hantu Penasaran

Marindya
Chapter #11

Konten Kreator Horor

Menjadi salah satu dari manusia yang bisa melihat makhluk halus di tengah lereng gunung yang ramai, adalah sebuah bencana bagi Arya. Selama ini ia sudah menahan diri untuk tidak berinteraksi dengan salah satu dari mereka. Dari bangsa mana pun, dari tingkatan mana pun. Namun, hari ini benar-benar hari sialnya. 

Ia sudah sempat kabur, tapi karena bisa berinteraksi dan energi mereka selaras, para hantu bisa menyentuhnya. Kedua lengan Arya terus dipegangi oleh Kagos dan Ayul— tadinya Siti, tetapi Arya muntah karena mencium bau menyengat dari tubuh Siti. Rasa-rasanya sudah satu jam ia duduk di tengah-tengah rombongan hantu ini. Arya bahkan tidak diberi kesempatan untuk memeriksa jam di ponselnya.

“Ini gue bakal dipegangin begini sampai subuh?” gerutu Arya. Ia terus memanyunkan bibirnya, berusaha menutup lubang hidungnya sebisa mungkin.

Di sekeliling pria itu, empat hantu berdiri melingkar seperti debt collector menagih angsuran yang macet.

“Kapan lu bisa pulang tergantung keputusan yang lu ambil,” kata Pak Po, kemudian ketiga temannya mengangguk bersamaan. “Dari tadi lu belum kasih kita jawaban. Jadi lu bisa nggak bantuin kita?”

“Kalau gue nggak mau?”

“Lu lihat Siti.” Pak Po menunjuk Siti dengan dagunya. “Dia punya bau badan kematian. Terakhir minggu lalu ada manusia mati keracunan karena bau ketek dia. Kalau lu nolak bantuin kita, lu bakal kita jepit di ketek Siti.”

Mendengar itu, Ayul tertawa terbahak-bahak. Sementara Kagos melepas tangan Arya sebentar, meletakkan tangannya sendiri di bawah ketiaknya, lalu menggerakkan lengannya berkali-kali. Terakhir, ia membuat gerakan seolah memotong lehernya sendiri dengan jempolnya. Siti yang menjadi satu-satunya korban terfitnah di kelompok hantu itu, hanya bisa mendengkus pasrah.

“Masalahnya gue ini cuma konten kreator! Gue dateng ke sini cuma cari bahan konten, karena gunung ini lagi viral! Gue ini bukan dukun, bukan peramal, bukan orang sakti yang bisa jalan-jalan ke masa lalu!” protes Arya dengan suara yang kencang.

"Lha, tapi kan lu bisa NGELIHAT kita!" sanggah Pak Po heboh. "Itu artinya lu punya bakat, lumayan sakti! Tinggal terawang dikit aja, Arya! Terawang muka kita, terus sebut nama asli kita siapa!"

Arya memberontak, hingga pegangan tangan Ayul dan Kagos terlepas dari lengannya. Lalu, ia memukul lengan Pak Po dengan sangat kencang, hingga mereka semua bisa mendengar suara “PLAK!” yang sangat renyah dan merdu.

“Denger ya, Pak Pocong, Adek Tuyul, Si Kunti, dan Kakak Gosong yang baik.” Arya menghela napas panjang, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. “Gue cuma bisa ngelihat bentuk kalian. Nggak ada fitur yang bisa dipilih buat nerawang silsilah keluarga, tanggal lahir, apalagi NIK kalian! Kalian pikir mata gue Google search bisa kasih kalian semua informasi yang dibutuhin?”

“Nah!” Kagos berteriak, mengejutkan semua keempat di sekitarnya. “Kalau gitu panggil si gugel gugel sec itu kemari. Biar dia bantuin kita!”

Lihat selengkapnya