Perkumpulan Hantu Penasaran

Marindya
Chapter #12

Pak Tohar, 1998

Pak Tohar selalu bangun lebih pagi dibanding ibu-ibu yang berangkat ke pasar. Ia selalu berangkat ke surau untuk ikut shalat subuh berjamaah bahkan sebelum adzan berkumandang. Selesai shalat berjamaah, Pak Tohar akan pulang untuk mencuci baju kotor, memasak sarapan untuk Andre, menyapu pelataran dan menyiram tanaman-tanaman, hingga memberi makan ayam-ayam peliharaannya. Rutinitas pagi Pak Tohar akan selesai ketika Andre berangkat ke sekolah. Lalu, ia akan sarapan dan bersantai sambil membaca harian surat kabar di teras rumahnya.

Rutinitas Pak Tohar tidak pernah berubah, selalu persis dan tepat waktu setiap harinya. Makanya, Andre cukup kebingungan karena saat ia keluar kamar pagi ini, rumahnya belum beraroma masakan. Bahkan halaman rumahnya masih dipenuhi oleh daun-daun kering dengan debu yang masih beterbangan karena tanahnya belum disirami. Semalam Pak Tohar memang mendapat giliran berjaga di pos ronda bersama Pak RT dan beberapa laki-laki lain, jadi bisa saja ia bangun kesiangan karena masih mengantuk. Namun ini sungguh diluar kebiasaan Pak Tohar.

Karena khawatir, Andre bergegas ke kamar bapaknya. Ia mengetuk pintu berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Ketika Andre membuka pintu kamar itu, Pak Tohar sedang berbaring menghadap tembok. Ia berjalan mendekat dan mencoba untuk membangunkan Pak Tohar, tetapi tidak peduli berapa kali pun Andre memanggil nama Pak Tohar dan mengguncang tubuhnya, mata itu tetap tidak terbuka. Dengan tangan yang gemetar dan pandangan yang mulai buram karena tertutup genangan air mata, Andre mendekatkan jati telunjuknya tepat di bawah hidung Pak Tohar. Tidak ada embusan napas yang ia rasakan.

Andre langsung berteriak memanggil nama Pak Tohar, merengkuh tubuhnya yang mulai dingin, sambil terus meraung.

Teriakan dan tangis yang terdengar begitu menyedihkan itu terdengar ke telinga para tetangga. Kabar duka menyebar seperti minyak tanah yang tersulut api di pemukiman padat tersebut. Tinah bahkan belum sempat berangkat ke pasar, ketika ia menyeret langkah kakinya ke kediaman Pak Tohar dan mendapati banyak warga yang sudah berkermun. Sebagian mencoba untuk memeluk Andre, sebagian lagi bergotong royong mengeluarkan perabot dari ruang tamu, dan membangun tenda kecil di halaman rumah untuk memandikan jasad Pak Tohar. Kejadian ini begitu tiba-tiba, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka akan ada kematian hingga harus menggali liang lahat pagi ini.

Di antara orang-orang yang tiba-tiba disibukkan dengan berbagai hal pagi ini, Andre hanya duduk bersila di ruang tamu dengan pendar mata yang kosong dan redup. Bapaknya telah selesai dikafani, tetapi ia bahkan tidak sanggup untuk mengaji. Ia tak sanggup untuk mendekat pada jasad Pak Tohar yang terbujur kaku.

Ketika Bagas menyambangi rumah Andre pada pukul dua siang, jasad Pak Tohar sudah dikebumikan. Meski begitu, pekarangan rumah Pak Tohar masih dipenuhi oleh warga dan kerabat yang turut hadir. Banyak dari mereka yang masih menangis, ikut memikirkan nasib Andre yang kini yatim-piatu.

Bagas memasuki pagar pekarangan rumah Pak Tohar yang terbuat dari bambu berukuran rendah, melewati bendera kuning yang dipasang di sana. Sebagai wali kelas Andre, Bagas jelas merasa memiliki kewajiban moral untuk datang melayat, begitu mendengar kabar duka ini dari ketua RT yang menelepon ke sekolah. Ia tidak datang sendirian, tetapi bersama dua guru lain, dan beberapa anak murid yang satu kelas dengan Andre.

Ketika masuk ke beranda rumah, mereka menemukan Andre duduk di sudut ruang tamu yang lapang tanpa perabot. Anak remaja yang biasanya liar dan gemar memicu amarah bapaknya itu kini tampak begitu kecil, ringkih, dan rapuh. Andre hanya menatap lantai yang dingin dengan tatapan kosong, seolah jiwanya ikut terkubur bersama jasad Pak Tohar beberapa jam yang lalu.

Bagas melepas alas kakinya, berjalan mendekat, lalu berlutut di samping anak muridnya. Tanpa bersuara, Bagas merengkuh pundak Andre yang bergetar pelan dan menepuknya lembut, seolah-olah ingin menyalurkan kekuatan di sana. Semua orang turut menangis menyaksikannya. Tidak ada suara lain di ruang tamu itu, selain suara isak yang saling bersahutan.

Namun, seperti pepatah yang sering didengar, dalam sebuah kematian pasti ada sebuah kelahiran. Entah jauh atau dekat, suka atau tidak. Di tengah suasana duka yang mengharukan itu, terdengar teriakan dari arah dapur.

"Tolong, Mbak Tinah mau lahiran! Air ketubannya pecah, tolong!” Suara ibu ketua RT menggelegar, memotong bisik-bisik warga dan membuat orang-orang di pekarangan berbondong-bondong menuju dapur rumah Pak Tohar. Bagas dan beberapa bapak-bapak tetangga keluar ke pekarangan rumah, melongok ke samping untuk melihat Tinah yang sedang dibopong menuju sebuah becak.

Lihat selengkapnya