Perkumpulan Hantu Penasaran

Marindya
Chapter #13

Titik Terang

Bagi empat jiwa yang terlempar keluar dari siklus kehidupan tanpa nama dan tanpa ingatan, gedung tua bekas pabrik tekstil di pinggiran Jakarta itu bukan sekadar tempat bernaung. Ia adalah benteng pertahanan. Di sanalah mereka bersembunyi tiap kali sang surya merangkak naik memancarkan pendar mentari yang sanggup mengikis kulit mereka hingga terasa perih seolah-olah terbakar. Setiap kali pagi datang, dalam remang sudut bangunan yang berdebu, Pak Po, Siti, Kagos, dan Ayul meringkuk pasrah, seperti sisa-sisa kenangan yang enggan dihapus oleh zaman. Bahkan, ada malam-malam dimana mereka tidak pergi ke mana-mana, dan hanya berdiam diri di gedung tua itu, membiarkan kebosanan dan kesepian menggerogoti mereka perlahan.

Namun malam itu, keheningan panjang di lantai atas gedung tua itu pecah oleh derap langkah kaki tergesa-gesa. Suara sepatu kets yang menghantam anak tangga yang retak bergema nyaring, semakin lama semakin dekat. Pak Po yang sedang melompat-lompat bosan di dekat tumpukan papan kayu tersentak, kain kafannya yang kusam terangkat naik. Ayul yang sedang menggosok-gosokkan paku berkaratnya ke lantai mendadak berhenti, matanya yang polos menatap lurus ke arah pintu di dekat tangga.

Siti yang melayang di dekat jendela bertirai jaring laba-laba, mengibaskan daster kusamnya yang berbau air got. "Buset deh, siapa malam-malam begini naik ke sini? Ada indigo gadungan datang lagi?”

Ketiga temannya mengangkat bahu serentak, menjawab pertanyaan Siti. Hingga tak lama, seseorang mendorong pintu yang berada di lantai dua, hingga menimbulkan suara derit panjang yang nyaring. Arya berdiri di ambang pintu, dengan napasnya yang terengah. Dadanya tampak naik-turun cepat, dan seluruh keningnya dipenuhi oleh tetesan keringat. Lampu senternya menyapu ruangan gelap itu, sebelum akhirnya terkunci pada sosok Kagos yang berdiri kaku hingga tampak seperti patung hitam di dekat pilar beton.

“Kenapa lu lari-lari kayak dikejar setan begitu?” tanya Pak Po. “Ngagetin kita aja lu!”

“Gue takut ketemu setan, gedung ini gelap banget!” Arya menjatuhkan bokongnya pada lantai kotor, dan bersandar pada dinding sambil berusaha mengatur napasnya. “Udah lama gue mau masuk gedung ini buat penelusuran, mau gue masukin ke chanel youtube yang lagi gue bangun. Tapi kabarnya nggak ada yang bisa keluar hidup-hidup dari sini, makanya gue nggak berani bener-bener masuk.”

Keempat hantu itu saling pandang bergantian, lalu mendekat sambil menatap Arya keheranan.

“Malam ini akhirnya gue beraniin datang ke sini karena mau ketemu kalian,” kata Arya lagi, lalu dia mengangkat tas punggung yang baru saja ia lepaskan dari pundaknya. “Gue bahkan udah bawa bawang putih dan garam, kalau ada hantu yang ganggu bakal langsung gue lempar pakai ini.”

“Ya,” panggil Pak Po sambil terus menggerakkan kepalanya ke kanan. “Pertama, nggak ada orang yang masuk dan mati di dalam sini. Lu kemakan gosip. Kedua, setan nggak takut bumbu dapur, lu pikir kita ikan tongkol?”

“Ketiga, Ya,” kali ini Kagos yang berbicara, setelah Pak Po memberinya isyarat dengan gerakan kepala. “Lu lari-lari dalam perjalanan nyari kita karena takut sama setan, padahal kita berempat juga setan. Gue nggak ngerti jalan pikiran lu!”

Alih-alih menanggapi ucapan Pak Po dan Kagos barusan, Arya justru bangkit dengan cepat dan memegang erat kedua lengan hantu gosong di depannya itu. “Kagos!” katanya, “Gue udah lihat banyak arsip berita dari pagi tadi!”

“Gusti Nu Agung!” Pak Po melompat mundur. “Lu jangan ngagetin, Ya! Gue nggak mau mati dua kali, jangan bikin gerakan tiba-tiba!”

"Diem dulu, Pak Po!" bentak Arya, dengan suaranya yang agak serak. Laki-laki itu menyapu wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menenangkan kegelisahan hebat yang membakar dadanya sejak tadi sore.

Lihat selengkapnya