Perkumpulan Hantu Penasaran

Marindya
Chapter #14

Kinarsih dan Bagas, 1998

Langit sore tak lagi berwarna jingga hangat, karena tertutup jelaga hitam dan asap pekat yang membumbung tinggi dari bangunan-bangunan yang dibakar suara sirine bercampur dengan gemuruh teriakan massa, langkah kaki yang berlarian, dan bunyi klakson kendaraan yang saling bersahutan.

Bagas terus mengayuh sepeda jengkinya sekuat tenaga. Otot-otot di kakinya rasanya seolah-olah mau putus karena terus mengayuh tanpa henti, dadanya naik-turun menghirup udara yang terasa panas dan berbau sangit ban terbakar. Namun, mendekati area jalan protokol yang menuju ke kompleks swalayan besar tempat Kinarsih bekerja, lalu lintas benar-benar lumpuh total. Jalanan dipenuhi barikade dari tempat sampah yang dibakar, pecahan kaca toko yang berserakan, dan lautan manusia yang berlarian tanpa arah. Jalur sepeda sudah tak bisa dilewati lagi.

​            "Cari jalan memutar! Di depan nggak bisa lewat!" teriak seorang pengendara motor yang memutar balik dengan wajahnya yang terlihat sangat panik.

​            Bagas menggeram frustrasi. Ia menepi ke pinggir trotoar di depan sebuah deretan toko kelontong yang pintunya sudah ditutup rapat dan diberi tulisan ‘milik pribumi’. Tanpa memikirkan risiko sepedanya hilang, Bagas melempar begitu saja sepeda jengki kesayangannya di atas trotoar dekat tiang listrik, lalu berlari membelah kerumunan massa dengan kaki telanjang dan napas terengah-engah.

Sepatu pantofelnya yang licin dan keras sama sekali tak didesain untuk berlari kencang. Terlebih, sepatu milik Bagas sudah cukup tua dan mulai tipis di bagian bawahnya, hingga ia berkali-kali hampir terpeleset menapaki minyak, oli, dan pecahan kaca yang berserakan di aspal. Tumit kakinya yang tergesek kasar oleh bahan kulit yang kaku mulai terasa perih dan melepuh, tetapi Bagas tak peduli. Rasa sakit di kakinya tak ada apa-apanya dibanding rasa khawatir yang menjalar di dadanya tiap kali membayangkan wajah Kinarsih.

​            "Kinar... Kinar, semoga kamu nggak terjebak dalam bahaya," bisik Bagas berulang-ulang seperti mantra di dalam hatinya, menerobos ketakutan yang terasa mencekik tenggorokannya.

​            Sementara itu, kondisi di dalam swalayan tempat Kinarsih bekerja sudah dibubarkan sejak jam dua siang. Pihak manajemen menyuruh seluruh karyawan pulang lebih awal karena kabar kerusuhan mulai mengarah ke area mereka.

            Meski begitu, Kinarsih tidak langsung pulang. Ia menyempatkan diri untuk menelepon sekolah tempat Bagas mengajar menggunakan telepon umum di depan swalayan. Namun, salah seorang teman Bagas yang mengangkat panggilan telepon itu, mengatakan bahwa Bagas sudah pergi untuk melayat ke rumah salah seorang anak muridnya sejak dua puluh menit lalu.

​            Dengan perasaan yang gelisah dan takut setengah mati, Kinarsih mencoba menelepon ke rumah Pak RT yang rumahnya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Karena Pak RT satu-satunya yang memiliki telepon rumah, ia bersedia ditumpangi telepon jika ada hal darurat.

            "Halo? Bu RT?" panggil Kinarsih tegang dari balik gagang telepon. "Mas Bagas sudah pulang ke rumah belum, Bu?"

​            "Aduh, Mbak Kinar!" suara Ibu RT terdengar panik bercampur bising dari radio. "Pak Bagas belum pulang, rumah Mbak Kinar masih terkunci rapat! Barusan suami saya ngelayat ke rumah juragan kontrakan, katanya barusan Mas Bagas di sana, tapi sudah pergi.”

​            "Kira-kira pergk ke mana ya, Bu? Mas Bagas titip pesan ke Pak RT, nggak?”

​            "Nggak, Mbak, dia langsung pergi gitu aja kata Pak RT. Mbak Kinar mending cepat pulang, Mbak, bahaya. Kalau bisa jangan lewat jalan besar. Aduh Gusti, ada apa ini sampai pada ngamuk begitu..."

​Belum sempat Kinarsih menimpali ucapan Bu RT, sambungan teleponnya terputus karena durasinya telah habis, dan Kinarsih kehabisan uang koin. Sementara Kinarsih masih berdiri di bilik telepon umum, suara klakson mulai terdengar nyaring bersahut-sahutan, dan para pengendara mulai berebut untuk lewat. Perasaannya semakin buruk, seiring ia menyeret langkah kakinya untuk meninggalkan tempat itu. 

Dengan langkah kaki yang gemetar, Kinarsih menuntun sepedanya melewati pemukiman warga di gang-gang kecil. Setiap kali mendengar teriakan brutal kejauhan atau dentuman benda keras yang dihantamkan ke dinding toko, tubuhnya merinding hebat. Hingga ketika akhirnya ia keluar dari gang terakhir menuju jalan raya, Kinarsih mulai bisa bernapas lega. Ia mendengar perbincangan salah satu warga, yang mengatakan bahwa massa yang mengamuk berjalan ke arah yang berlawanan dengan jalan menuju tempat tinggalnya.

Lihat selengkapnya