Perkumpulan Hantu Penasaran

Marindya
Chapter #15

Tergulung Kenangan

Setelah Arya berlari ketakutan menuruni tangga dan melesat menghilang di kegelapan malam, guncangan hebat di gedung tua itu perlahan-lahan mereda. Serpihan kaca jendela yang tadi pecah berhamburan, kini memantulkan pendar remang lampu jalanan dari luar. Bangunan tua itu mendadak hening dan mencekam.

Di sudut ruangan dekat pilar beton, Siti terduduk di lantai. Daster kusamnya terhampar basah, tubuhnya masih bergetar hebat. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, sementara air mata kemerahan menetes bertubi-tubi membasahi wajahnya yang pucat. Jeritan histerisnya telah berganti menjadi isakan tangis yang begitu pilu dan menyayat hati.

Pak Po dan Ayul berdiri gemetaran jauh di sudut yang berlawanan, tak berani mendekat karena masih trauma melihat amukan Siti tadi. Di tengah suasana yang dingin itu, hanya Kagos yang mengambil langkah untuk mendekati Siti.

Sosok yang seluruh tubuhnya hangus legam seperti arang itu berjalan pelan, sambil mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Ia meraba dadanya yang entah mengapa terasa lebih hampa dari biasanya. Di tengah langkahnya itu, timbul rasa iba dan kebingungan yang teramat sangat melihat kuntilanak yang selama puluhan tahun ini selalu ceria, mengajaknya berdebat konyol, dan tidak pernah terlihat sedih, kini hancur lebur diterpa penderitaan yang datang dengan tiba-tiba.

Kagos berlutut perlahan di samping Siti. Dengan ragu-ragu, tangan gosongnya yang kasar terulur untuk merangkul bahu Siti yang terguncang hebat. Tepat saat telapak tangan Kagos menyentuh bahu Siti, Kagos bisa merasakan ada getaran yang menjalar perlahan ke seluruh tubuhnya. Kepingan-kepingan ingatan masa lalu yang selama dua puluh delapan tahun terkunci rapat, seolah-olah membara bagaikan api menyambar bensin. Sensor ingatan Kagos berputar liar.

Bau asap pekat yang menyengat hidung, decitan pedal sepeda yang digenjot kencang-kencang menembus barikade massa, hawa panas dahsyat dari bangunan swalayan yang dilalap kobaran api neraka, dan satu nama yang terus dijeritkan oleh dadanya hingga napas terakhirnya terenggut.

"KINARSIH!"

Nama itu meluncur dari bibir Kagos. Ia menatap mata Siti lekat-lekat, dan menemukan pendar familiar di sana. Pandangan Kagos terhadap Siti seketika berubah. Daster kusam yang selalu ia ejek bau apak, wajah lepek yang selalu ia hibur tiap kali mengeluh lapar, kuntilanak galak yang selama ini menjadi temannya di gedung tua ini adalah Kinarsih, istrinya sendiri. Wanita yang sangat dicintainya, wanita yang dulu ia cari keberadaannya di tengah amukan massa sampai nyawanya sendiri melayang terbakar.

"Kinar," bisik Kagos dengan suaranya yang mulai bergetar. Lelehan getah hangat keluar dari matanya. "Kamu Kinar, istriku."

Seiring dengan sebutan nama itu dan hangatnya dekapan Kagos, guncangan di kepala Siti perlahan mereda. Ingatan Siti yang tadi masih berkabut mendadak terkunci utuh. Siti mendongak, matanya yang basah menatap lurus ke arah Kagos.

"M-Mas Bagas?" bisik Siti parau. "Mas Bagas, ini kamu?"

Lihat selengkapnya