Perkumpulan Hantu Penasaran

Marindya
Chapter #16

Tinah, 1998

Besi-besi tua becak Bang Madun berderit keras setiap kali pedalnya dihentak kasar. Kayuhannya semakin liar, menembus jalan-jalan sempit pemukiman warga yang mulai diselimuti suasana sepi. Roda karet yang tipis itu menggilas kerikil dan pecahan batu bata dengan guncangan tak beraturan, membuat siapa pun yang duduk di atas kursi kayunya terombang-ambing.

Di atas kursi kayu berlapis kalep yang mulai mengelupas itu, Tinah merintih. Tubuhnya melengkung menahan gelombang kontraksi yang makin memuncak. Setiap kali cengkeraman rasa sakit itu menghantam panggulnya, buku-buku jarinya memutih, mencengkeram erat pinggiran kursi becak. Di tangan kirinya, amplop berisi lembaran-lembaran uang kertas kusam yang dikumpulkan dengan susah payah, dicengkeramnya seolah benda itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang menyambungnya dengan masa depan. Uang yang akan membiayai persalinannya.

"Tahan, Mbak Tinah! Tahan sebentar lagi! Dikit lagi nyampe gang depan!" seru Bang Madun dari belakang kemudi. Keringat bercucuran dari pelipisnya, membasahi kaos oblongnya yang lusuh. Napas pria setengah baya itu memburu, terdengar seperti gesekan amplas kaku di tenggorokan.

Seorang perempuan yang tadi turut mengantar Tinah, ikut mengusap punggung dan perut Tinah, mencoba untuk memberi kenyamanan. Wajahnya pucat, matanya liar menyapu setiap tikungan dan celah gang.

"Lewat gang Pak RT aja, Madun! Jalan besar depan kayaknya udah nggak beres dari tadi!" teriak perempuan yang duduk di samping Tinah.

"Enggak bisa, Bu! Gang Pak RT diportol warga dari dalam, dikunci! Kita harus lewat perempatan depan kalau mau sampai ke rumah Bidan Yanti!" balas Bang Madun tanpa menurunkan kecepatan kayuhannya.

Namun, kota yang sedang dirasuki histeria tak lagi menyisakan ruang aman bagi siapa pun. Begitu roda becak melintasi batas perempatan kecil menuju jalan pemukiman utama, pemandangan di depan mereka memutus seluruh harapan. Ratusan orang berkumpul bagaikan lautan manusia yang kehilangan kendali. Suara raungan klakson, teriakan histeris, dan benturan seng bertabrakan menjadi satu gelombang kebisingan yang merusak gendang telinga. Orang-orang berlarian tanpa arah memegang balok kayu, batu kali, hingga botol-botol sirop berisi bensin dengan kain membara di ujungnya. Hawa panas langsung menyengat kulit, membawa bau busuk karet terbakar yang pekat menembus paru-paru.

"Putar balik, Pak Madun! Putar balik sekarang!!" teriak perempuan di samping Tinah dengan suara melengking panik. “Kita ke rumah Mbok Sih aja! Biar Mbak Tinah Lahiran di dukun beranak, yang penting selamat!”

Bang Madun mencengkeram rem setang sekuat tenaga. Roda becak terseret mencicit keras di atas aspal. Namun, memutar becak dengan penumpang hamil tua di jalan sempit yang terhalang sampah terbakar bukanlah perkara mudah. Terlambat. Keberadaan becak yang mendadak berhenti di tengah simpang jalan itu langsung menarik perhatian segerombolan pemuda di barisan terdepan. Mata mereka merah, dipenuhi amarah liar yang tak memiliki muara.

Dalam kekacauan masal di mana kecurigaan dan rasa benci dibiarkan meletup bebas, penampilan fisik seseorang mendadak menjadi vonis mati.

Lihat selengkapnya