Perkumpulan Hantu Penasaran

Marindya
Chapter #17

Urusan yang Belum Selesai

Hawa dingin yang dibawa oleh empat arwah itu merayap pelan menelusuri koridor rumah dua lantai milik keluarga Arya. Suasana rumah terasa sepi. Suara detik jarum jam dinding tua berpadu halus dengan suara sayup-sayup dari layar televisi yang menyala di ruang tengah.

"Pelan-pelan," bisik Arya sambil melirik ke belakang, menatap empat bayangan yang melayang ragu menyeberangi lorong. "Jam segini bapak gue biasanya nonton tayangan tinju di TV sampai ketiduran di sofa. Inget ya, jangan ada yang bikin gerakan aneh atau bikin suara serem! Bapak gue itu latah dan penakut banget!"

Pak Po yang melompat di barisan paling depan tak menyahut. Ikatan kain kafan di atas kepalanya lagi-lagi merosot ke kiri. Setiap inci langkahnya menuju ruang tengah terasa seolah-olah sedang menuntunnya melintasi koridor waktu puluhan tahun yang lalu. Begitu melewati sekat ruangan, pemandangan ruang keluarga yang hangat menyapa mereka. Di atas sofa empuk bercorak cokelat tua, seorang pria paruh baya bertubuh tambun tampak tertidur lelap. Televisi di depannya masih menyiarkan pertandingan ulang tinju dunia dengan volume rendah. Pria itu mengenakan kaus oblong putih dan sarung melilit di pinggangnya, sebuah gaya dan kebiasaan yang tak asing di mata Pak Po.

Pak Po mematung di ambang batas karpet. Kain kafannya yang kusam merosot pelan. Air mata meluncur deras menembus kain yang menutup sebagian wajah pucatnya. Bayangan remaja tanggung yang dulu menangis histeris mendapati jasad bapaknya kaku di atas tikar pandan, kini telah berganti menjadi sosok pria dewasa yang rambutnya mulai memutih.

"A-Andre," bisik Pak Po, suaranya parau dan bergetar hebat.

Mendengar itu, Arya dan tiga hantu lainnya tersentak kaget di tempat masing-masing.

"Andre, anakku," raung Pak Po parau, suaranya yang lirih terdengar begitu menyedihkan. "Ini Bapak, Nak. Ini Bapak." Pak Po melompat mendekati sofa, mencoba mengeluarkan salah satu tangannya dari kain kafan. Tangan pucat itu terlihat gemetaran mencoba menyentuh pipi pria yang tertidur di depannya. Namun, jemari Pak Po hanya menembus udara kosong dan bayangan wajah anaknya. Penyesalan, rasa rindu, dan kasih sayang yang terpendam selama puluhan tahun meluap tak terbendung.

Pak Po luruh berlutut di samping sofa, meratapi ketidakberdayaannya sebagai jiwa yang tak sempat mengucapkan selamat tinggal. Melihat Pak Po yang menangis tanpa suara, Kagos melangkah mendekat, menyelimuti bahu Pak Po dengan lengan gosongnya yang hangat.

Siti merapatkan daster kusamnya, merangkul Pak Po dari sisi lain, sementara Ayul mengusap-usap kain kafan Pak Po dengan tangannya yang polos. Di ruang tengah yang hening, empat hantu terlunta-lunta itu saling memeluk erat dalam lingkaran duka yang mendalam.

Sementara di belakang mereka, Arya berdiri kaku di dekat pintu, memandangi keempat arwah itu dengan tenggorokan serasa terkunci rapat dan mata yang merebak basah.

Malam semakin larut ketika mereka akhirnya memilih kembali ke gedung tua tempat tinggal mereka. Di sudut ruangan berdebu yang kini terasa jauh lebih hangat, mereka duduk melingkar. Bayangan masa lalu yang membara perlahan-lahan menjadi jernih.

Pak Po menundukkan kepalanya yang terbungkus kafan, mengusap air matanya pelan. "Gue baru ingat semuanya," kata Pak Po dengan suara serak. "Nama gue Tohar. Gue bapaknya Andre."

"Pak Tohar?" bisik Siti, sambil menatap Pak Po dengan pandangan tak percaya. "Bapak itu Pak Tohar pemilik kontrakan kita dulu?"

Pak Po mengangguk pelan. "Iya, Siti. Gue Tohar. Bapak-bapak galak yang selalu ngomel-ngomel nagih uang sewa ke kalian tiap bulan." Pak Po menghela napas panjang, merapatkan kain kafannya yang agak kendor. "Selama puluhan tahun gue mikir, kenapa gue gentayangan jadi pocong kayak gini? Gue pikir, alasan gue kagak bisa 'menyeberang' itu murni cuma gara-gara tali pocong gue lupa dilepas sama warga pas dikubur terburu-buru."

Pak Po mendongak, menatap Kagos dan Siti bergantian dengan penyesalan yang mendalam. "Tapi ternyata bukan cuma itu. Beban paling berat di dada gue adalah Tinah, dan bayinya."

"Sebelum gue mati mendadak pagi itu," lanjut Pak Po dengan suara yang makin gemetaran, "Gue udah nyiapin amplop cokelat isi uang kontrakan Tinah selama enam bulan. Gue sengaja bertingkah jahat, bentak-bentak dia tiap bulan, biar dia ketakutan dan terpaksa nabung. Uang itu sengaja gue kumpulin utuh, niatnya mau gue kasih balik pas dia lahiran buat biaya nyambut bayi."

Air mata Pak Po menetes lagi membasahi kain kafannya. "Tapi Tuhan keburu nyabut nyawa gue pagi itu. Gue mati sebelum sempat nyerahin uang itu ke tangan Tinah secara langsung. Rasa bersalah itu, janji yang belum tuntas itu, yang bikin jiwa gue tertahan dan tertambat di bumi sampai sekarang. Gue nggak tahu kenapa bisa ketemu kalian dan lupa di mana mayat gue dikubur. Padahal gue yakin, kuburan gue jelas dan ada namanya. Bahkan Andre ikut menguburkan gue pagi itu."

Lihat selengkapnya