Hari ini, langit Jakarta kembali cerah seperti biasanya. Orang-orang mulai kembali ke rutinitas mereka masing-masing. Namun bagi ratusan jiwa yang terperangkap dalam bencana itu, cerita mereka tak pernah benar-benar selesai di bawah urukan tanah. Jasad Bagas tak pernah menyentuh liang lahat. Tubuhnya yang telah hangus membara menjadi arang hancur tertimbun di bawah puing-puing beton swalayan lantai dua yang runtuh dilalap api. Dalam riuhnya evakuasi massal yang terburu-buru, sisa-sisa jasadnya menyatu dengan reruntuhan bangunan, terkubur dalam sunyi tanpa nama, tanpa doa, dan tanpa satu pun nisan yang menandai keberadaannya.
Sementara itu, jasad Kinarsih yang tergeletak kaku di lorong gang sempit akhirnya ditemukan oleh petugas evakuasi. Kulitnya yang dingin dan seragam kerjanya yang koyak tak lagi menyimpan jejak identitas. Di kamar jenazah rumah sakit yang dipenuhi ratusan jasad tak dikenal, Kinarsih terbaring membeku. Tidak ada suami yang datang menjemput, tidak ada kerabat yang meratapi kepergiannya. Ia menjadi salah satu mayat tanpa identitas, yang akhirnya dikuburkan secara massal bersama korban lain.
Sementara itu, dua ratus kilometer dari keriuhan Jakarta, di sebuah desa terpencil di pelosok Jawa Tengah, waktu bergulir dengan kelambatan yang menyiksa. Di sebuah rumah berdinding anyaman bambu dengan lantai tanah yang lembap, orang tua Bagas dan orang tua Kinarsih hidup dalam kesederhanaan yang nyaris menyentuh garis kemiskinan. Mereka adalah orang-orang tua yang merawat tanah, yang tak pernah tersentuh oleh huruf-huruf di atas kertas, dan tak pernah memiliki kotak ajaib bernama radio apalagi televisi. Dunia mereka hanyalah petak sawah dan bisikan angin sore.
Kabar tentang kota yang kacau sampai ke telinga mereka bukan lewat siaran berita, melainkan lewat desas-desus liar yang dibawa para pedagang pasar. Kabar tentang kota besar yang dibakar, toko-toko yang dijarah, dan orang-orang yang mati terbunuh di jalan raya. Ketakutan yang tak bernama mendadak mencengkeram dada tua mereka.
Ibu Kinarsih tak bisa tidur selama berhari-hari. Setiap kali angin malam berembus membentur pintu kayu rumahnya, ia akan meloncat berdiri, berharap itu adalah ketukan pintu dari putrinya yang pulang. Namun, yang menyapa hanyalah sepi. Saking tak kuasanya menahan kecemasan yang makin menggerogoti jiwa, dengan kaki-kaki tua yang gemetaran dan pakaian terbaik mereka yang sudah terlihat kusam, orang tua Bagas dan Kinarsih berjalan kaki berjam-jam menuju kantor kecamatan. Di sana, di balik bilik kayu wartel yang berbau apak, mereka meminta bantuan petugas untuk memutarkan nomor telepon rumah Pak RT, satu-satunya tetangga kontrakan anak-anak mereka yang nomornya pernah dicatat di selembar kertas lusuh.