Malang, Oktober 2024
Tinggal di tempat asing yang tidak seorang pun mengenal demi hidup lebih tenang, mungkin adalah salah satu pilihan terbaik bagi sebagian orang. Menghindar atau menjauh dari hal-hal yang membuat hati dan pikiran tidak nyaman bukanlah kejahatan, bukan?
Itulah yang dilakukan Niyu seusai menjalani pengobatan spiritual di padepokan Mbah Langgeng yang terletak di lereng Gunung Pandan, Bojonegoro. Dia tidak pernah lagi pulang ke Magetan. Baginya, itu sama saja dengan menoleh ke belakang dan menguak luka lama. Dengan persetujuan dan bantuan sang kakek, Niyu langsung pergi ke Malang, melanjutkan pendidikan di SMA Bina Putra-Putri Bangsa, sekolah yang menyediakan fasilitas asrama.
Karena setelah lulus SMP sempat beristirahat dua tahun, dia yang seharusnya sudah duduk di kelas dua belas SMA, tahun ini baru memulai debutnya di kelas sepuluh. Usianya jelas lebih tua dari teman-teman sekelas, tetapi dari segi penampilan tampaklah sebaya.
Tinggal di tempat baru pun tetap saja ada hal-hal yang tidak mungkin berubah, misalnya perihal energi negatif yang menempel pada dirinya. Namun di sini, Niyu merasa jauh lebih aman dan nyaman karena tidak ada yang mengetahui masa lalunya.
Orang-orang yang sengaja menjaga jarak dan diam-diam menatapnya, lalu saling berbisik, bukanlah masalah besar. Dia sudah mengalami hal serupa nyaris seumur hidup. Pasrah menerima hingga akhirnya justru menikmati dan merasa ada yang kurang jika hal semacam itu tidak terjadi. Namun, kali ini Niyu cukup beruntung, dipertemukan dengan Melisa dan Tika, teman satu kamar yang tidak terpengaruh oleh energi negatifnya.
Selama kurang lebih empat bulan ini mereka tidak hanya menjadi teman satu kamar, tetapi juga sudah bersahabat baik. Ke mana-mana selalu bertiga sampai dijuluki Tiga Sekawan. Lihatlah, bahkan di ruang makan pun berada dalam satu kelompok, duduk satu baris dengan Niyu selalu berada di tengah.
Melisa dan Tika tidak tahu kenapa orang-orang enggan berdekatan dengan Niyu. Namun, mereka tidak suka jika ada yang buru-buru menjauh ketika Niyu datang atau hendak duduk di dekatnya. Oleh karena itulah, mereka selalu ada di sisi kiri dan kanan Niyu seperti pembatas.
"Nih, timun sukaan lu." Melisa memindah tiga irisan mentimun dari piringnya ke piring Niyu.
"Thanks," ucap Niyu disertai senyum sangat samar, lalu memberikan salah satu kerupuk udang miliknya sebagai ganti.
"Gue mau juga," celetuk Tika sedikit merengek.
"Paroan aja." Melisa hendak membagi kerupuk udangnya.
Niyu langsung mencegah, "Nggak usah." Kemudian memberikan miliknya pada Tika. "Nih."
Tika, si mungil gemoy berkacamata, tersenyum lebar. Sebelum menerima kerupuk pemberian, terlebih dulu memindahkan tiga iris timunnya ke piring Niyu. "Makasih," ucapnya sambil mencomot kerupuk dari tangan si minim ekspresi dan lanjut mengomel, "Senyum lebaran dikit juga kagak bakalan robek tuh bibir, Yu."
"Mmm." Niyu mengangguk kecil.
Bisa berbagi sesuatu dengan orang lain adalah pengalaman langka bagi Niyu dan itu sangat menyenangkan. Membuatnya merasa diterima dan sebenarnya juga ingin tersenyum lebar untuk mengekspresikan isi hati. Sayangnya, senyum yang dia kira sudah cukup lebar ternyata hanya tampak samar-samar di mata kedua sahabatnya.
"Niyu, ambil titipan!" Suara salah satu staf mengudara di antara obrolan ringan dan denting sendok garpu. Satu nama yang dipanggil dan seisi ruangan menoleh serempak.
Melisa berdiri. "Gue aja. Ribet lu di tengah." Gadis paling bongsor di kelas sepuluh yang selalu mengenakan kerudung itu melangkah diiringi suara berbisik-bisik.
"Apa lagi sekarang?"
"Mana kutahu."
"Pastinya enaklah."
"Enak banget sih jadi dia. Selalu ada yang anterin makanan."
"Siapanya, sih, yang anterin?"
"Siapa yang tau. Tapi kayaknya dia nggak pernah ikut makan, sih."
"Makan, kok, tapi dikit. Lainnya dibagiin ke kelompok."
"Siapa, ya? Jadi penasaran."
"Sekarang paling-paling seminggu sekali, dulu mah setiap hari. Dua kali pula, siang sama malam."
Suara simpang siur masih terus terdengar hingga Melisa kembali ke meja. Dia membawa dua kantong kertas cokelat, lalu mengeluarkan dua kotak karton makanan yang isinya berbagai macam kue dan gorengan.
"Bujug, gorengan." Mata Melisa berbinar, lalu dengan sengaja menghirup udara dalam-dalam, aroma ayam goreng lauk makan malam serasa kalah telak. "Mau yang mana, lu?" tanyanya pada Niyu.
Gadis berambut pendek setengkuk itu langsung mengambil satu tahu isi dan meletakkan di piring. "Udah, satu aja," ujar Niyu sembari menatap penuh arti.
Melisa yang sudah hafal, tanpa kata pun paham. "Yuk, dimakan. Bisa juga disimpen buat ntar." Dia langsung mengedarkan dua kotak kue dan gorengan ke anggota kelompoknya. Bahkan ada beberapa anggota kelompok lain juga dapat. Pada saat seperti inilah mereka akan beramai-ramai mengucapkan terima kasih kepada Niyu.
Niyu yang mengambil tahu isi hanya untuk menunjukkan bahwa makanan itu aman untuk dinikmati, sudah fokus menyantap makan malamnya dan tidak ingin repot-repot menanggapi ucapan basa-basi mereka.
"Dasar muka dua semua." Tika yang sedari tadi bermuka masam pun akhirnya menggumam. Niyu mendengar, tetapi tidak merespons.
Di antara keduanya, Tika memang lebih sulit didekati dan tidak bisa berpura-pura, sedangkan Melisa sangat supel dan tetap bisa tersenyum meski hatinya sedang kesal. Terlepas seperti apa pun kepribadian mereka, Niyu tidak ambil pusing. Untuk alasan tertentu, Niyu menganggap Melisa dan Tika itu sangat istimewa dan sangat beruntung memiliki mereka di sisinya.