"Misteri Toilet Lantai 2"
Selesai mengetik sebaris kalimat di laptopnya, Niyu malah termenung dengan tatapan kosong.
Seandainya, hujan yang terus mengguyur Kota Malang dalam dua hari belakangan mampu menghapus ingatan, pastinya Niyu tidak perlu lagi merasa gelisah seperti sekarang ini. Sayangnya, nuansa kelam karena langit terus-terusan mendung, justru membuat kejadian horor dua malam yang lalu itu sukar dilupakan. Parahnya lagi, malah perlahan-lahan mulai mengikis rasa tenang dari hati Niyu.
Dia tidak peduli perihal obrolan sampah dua siswi itu, tetapi tidak bisa abai begitu saja pada hantu perempuan yang berniat mencelakainya. Rasa aman di hati Niyu pun kian surut ketika mengetahui, Melisa dan Tika mendapat informasi tentang dirinya yang pingsan dari seorang gadis bule berambut keriting pirang.
Di SMA Bina Putra-Putri Bangsa ini, baik yang tinggal di asrama maupun yang tidak, siswi dengan ciri-ciri seperti itu tidak ada. Niyu semakin yakin rasa cemasnya itu wajar karena, Melisa dan Tika yang awalnya bercerita penuh semangat, mendadak linglung ketika ditanya tentang gadis bule yang mereka ceritakan. Niyu belum lupa dengan tatapan bingung serta wajah bodoh mereka, mirip orang yang baru sadar dirinya tersesat setelah berjalan cukup jauh ke dalam hutan.
Di sini, masalahnya bukan perihal hantu berwujud apa yang datang, melainkan fakta bahwa hantu-hantu itu berani muncul terang-terangan di sekitar Niyu, padahal seharusnya tidak.
"Misteri Toilet Lantai Dua." Tika yang baru saja datang, membaca satu-satunya kalimat yang ada di layar laptop dan membuyarkan lamunan Niyu. "Mau dibikin novel?" tanyanya basa-basi. Toh, dia tau jawabannya pasti ia, soalnya Niyu memang suka menulis cerita dan dipublikasikan di sebuah platform.
Niyu yang sempat merasakan sensasi pecah pada ubun-ubun karena terkejut, dengan cepat mampu menguasai diri. Dia perlahan mendongak dan bertemu tatap dengan si mata empat yang berdiri di belakangnya.
"Hu'uh," jawabnya singkat sambil meluruskan sikap dan celingukan. "Melisa mana?"
"Nongkrong sama Reta di lantai satu." Tika menjawab santai sambil berbalik dan saat itu juga darahnya seakan mendidih. Melihat satu handuk teronggok di atas kasurnya yang tertata rapi, jiwa perfeksionis gadis itu pun langsung berontak. Dia bergegas memungutnya dan berteriak, "Niyuuu!"
"Huh?" Niyu terlonjak dan menoleh. Pandangannya langsung gelap karena tertutup handuk yang dilempar Tika.
"Resek lu, ya! Handuk lembap bukannya dijemur! Lagian napa sih mesti di kasur gue? Spreinya jadi ikut lembap, tauk!" Puas mengomel, Tika mendelik tajam dengan wajah cemberut.
Niyu sejenak menatap handuk merah muda di tangan, lalu melemparnya ke tempat tidur atas sambil berujar malas, "Iya ntar aku transfer omelannya ke Melisa."
Tatapan Tika langsung beralih ke handuk yang sekarang tersampir di pagar tempat tidur atas, barulah dia sadar bahwa itu memang milik Melisa.
"Ish, emang resek banget tuh anak!" Sambil menggerutu dia menarik handuk itu dan menggantungnya di balkon untuk diangin-anginkan. Setelahnya, mengganti seprai dengan yang bersih, padahal hanya lembap sedikit, pun baru diganti tadi pagi.
Ocehan Tika merembet ke mana-mana, bahkan kabinet susun yang sedikit terbuka karena kurang rapat menutupnya pun ikut jadi bahan. Niyu memutar mata bosan dan tersenyum miring sangat samar.
Begitulah Tika, si perfeksionis, keteledoran sepele pun bisa membuatnya uring-uringan. Awal-awal menjadi teman sekamar, Niyu dan Melisa yang slebor, hampir setiap hari mendapati pakaian bersih yang mereka tumpuk di atas kasur tiba-tiba pindah ke keranjang pakaian kotor.
Tika dan Niyu pun nyaris tidak pernah bertegur sapa karena pada dasarnya memang tipe yang tidak suka banyak bicara. Ditambah gesekan-gesekan kecil yang kerap terjadi, mereka pun semakin enggan berinteraksi, bahkan berbasa-basi pun tidak.
Dulu, di kamar ini ada empat orang, tetapi yang satu minta pindah karena tidak tahan dengan Tika dan Melisa yang sering adu mulut. Setelah berhari-hari enggan ikut campur dalam perseteruan, Niyu yang lebih tua pun menyadari, seharusnya dia bisa menjadi penengah bukan malah masa bodoh. Dengan kemampuan berkomunikasinya yang tidak luwes, Niyu memberanikan diri untuk mengajak mereka berbicara dari hati ke hati.
Pada saat itulah, Melisa dan Tika baru menyadari ada yang tidak wajar pada Niyu. Dari suaranya yang serak, bergetar dan tergagap, juga jemari gemetar yang intens saling meremas serta mata yang terus bergerak-gerak ketika sedang berbicara, Niyu terlihat seperti penderita gangguan kecemasan berat.
Selama beberapa hari bersama, Melisa dan Tika hanya melihat sosok Niyu yang penyendiri, tidak pernah bicara dan tatapannya penuh permusuhan. Mereka mengira Niyu tipe arogan yang suka memandang rendah orang lain. Namun, setelah melihat jelas faktanya, mereka pun berasumsi bahwa inilah alasan Niyu selalu menyendiri dan nyaris tidak pernah bicara.
Mereka pun merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk dan mulai bersimpati pada Niyu yang saat itu terlihat sangat berjuang menuntaskan kata demi kata. Dari saat itulah, di hati Melisa dan Tika tumbuh keinginan untuk membantu Niyu mengatasi gangguan kecemasan, dengan cara membuatnya merasa nyaman dan diterima apa adanya.
Persahabatan mereka dibangun di atas fondasi ketulusan dari; rasa tanggung jawab Niyu sebagai yang lebih tua untuk menjadi penengah, dibarengi rasa simpati serta keinginan Melisa dan Tika untuk membantu Niyu. Kedekatan yang awalnya sangat canggung, yang mana Melisa dan Tika lebih berinisiatif mendekat, lambat laun mampu membuat Niyu mencair hingga akhirnya tidak ada lagi rasa sungkan maupun enggan di antara ketiganya.
Sayangnya, semakin akrab mereka kian nyaman pula untuk bicara apa adanya. Keributan pun justru lebih sering terjadi di antara Melisa dan Tika, tetapi tidak sampai bermusuhan seperti sebelumnya. Sementara Niyu, malah semakin nyaman untuk tetap masa bodoh karena Melisa dan Tika sangat tahu batasan—tidak perlu ditengahi lagi.
"Huh, beres." Selesai memasang sprai bersih, Tika meringkas yang kotor dari lantai sambil bertanya, "Ada cucian kagak lu? Sekalian gue cuciin."