Permainan Maut Warisan

M.G. Rosana
Chapter #3

BEBAN HATI NIYU


Tika yang duduk di atas tempat tidur tengah fokus mengoperasikan ponsel, segera menatap Niyu yang baru datang dan mengomel, "Buru-buru keluar emang mau ke mana, sih? Dipanggil-panggil kagak nyahut, balik-balik napas ngos-ngosan kayak gitu, mana keringatan lagi. Habis olahraga lu?"

Niyu menanggapi santai cenderung tak acuh, "Dompetku ketinggalan di lantai empat."

Sayangnya, tatapan Tika yang segera tertuju ke atas meja pun langsung meruntuhkan alibinya. Dompet itu ada di sana. Memang sedikit tersembunyi di belakang laptop, tetapi tidak mungkin Niyu tidak bisa melihatnya.

"... ternyata di sini." Niyu menggumam sambil meraih dompet lipat berwarna hitam. Gesturnya santai alami, seakan benar-benar tidak melihat benda tersebut ada di situ sebelum tergesa-gesa keluar untuk mencarinya.

"Belum tua udah pikun lu." Celetukan Tika bernada candaan, tetapi tatapannya lekat penuh curiga. Dia ingat betul hari ini Niyu tidak mencuci pakaian di lantai empat. Bagaimana bisa mengira dompetnya tertinggal di sana?

Niyu menoleh, tersenyum samar dan bergegas duduk kembali. Meskipun hanya sekilas, tetapi Tika bisa menangkap kesan bahwa Niyu seperti menghindari tatapannya. Alih-alih bertanya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, gadis berkacamata itu malah menggeleng pelan dan kembali fokus pada ponsel. Pikirnya, seperti itulah Niyu, selalu ada kesan misterius dalam setiap gerak-geriknya.

Setelah kejadian itu, Niyu jadi suka termenung. Dia yang aslinya memang tidak banyak bicara menjadi kian irit kata dan keesokan harinya, malah sulit ditemui. Pada jam istirahat makan siang pun tidak hadir di ruang makan, membuat kedua sahabatnya bingung.

"Eh, Niyu ke mana, sih?" Melisa bertanya dengan berbisik-bisik.

Tika pun balas berbisik, "Kagak tau. Lu ngerasa dia agak aneh kagak, sih?"

"Hum." Melisa mendengung sembari mengangguk.

Keduanya bertemu pandang dan saling memahami. Ruang makan bukan tempat aman untuk membicarakan topik yang ingin mereka bahas. Seusai makan, Tika dan Melisa menggunakan sisa jam istirahat untuk mencari Niyu, tetapi tidak berhasil menemukannya. Karena lelah, mereka pun berakhir duduk di kursi taman sekolah yang cukup sunyi.

"Jadi lu juga ngerasa dia agak aneh?" Melisa memulai obrolan.

Dengan tatapan menerawang ke angkasa Tika membalas, "Bukan cuma dia yang aneh, mimpi gue juga jadi aneh akhir-akhir ini."

"Lah, sama," celetuk Melisa antusias. "Gue jadi sering mimpiin bapak-bapak pake surban putih."

Tika langsung saja menatap Melisa dengan wajah serius. "Gue noni-noni Belanda. Astaga ...."

Keduanya saling menatap dan terdiam sejenak, sama-sama ingin meyakinkan diri bahwa sekarang ini mereka tidak sedang beromong kosong.

"Lu inget cewek bule rambut pirang keriting itu, kan?" Akhirnya Tika memecah hening dengan suara pelan dan wajah yang kian serius. Semakin pelan suaranya, mata pun kian menyipit.

Raut wajah Melisa pun sama seriusnya. Mata belonya malah seperti sedang melotot dan hanya satu kata terlontar lirih darinya, "Dia?"

Tika mengangguk dan menjelaskan, "Tapi versi dewasa. Anggun, cantik banget. Kagak ngomong apa-apa, cuma ngeliatin aja, sih."

Lihat selengkapnya