"Astaga, Niyuuu! Dicariin ke mana-mana juga ...." Tika yang baru datang langsung menggerutu gemas, tetapi Niyu yang tengah membaca buku di kursinya hanya mengerling sekilas.
"Lu kagak sakit, kan?" Gadis berkacamata itu cepat-cepat mengelap telapak tangan yang lembap menggunakan tisu, lalu menyentuh dahi sahabatnya. "Kagak panas, sih."
Niyu menatap ke luar jendela dan tertegun. Sekarang sedang hujan, udara cukup dingin makanya dia mengenakan jaket. Mungkin karena itulah Tika menyangka dirinya sakit. Tika yang baru saja kembali dari luar, telapak tangannya terasa sedingin es. Namum, Niyu justru merasa jiwanya hangat ketika jemari montok itu menyentuh dahinya. Hangat yang terasa mengalir hingga ke dada dan membuatnya sesak oleh rasa haru.
Faktanya, setelah sang ibu meninggal, Tika adalah orang pertama yang melakukan hal ini pada Niyu. Ya, dia tidak mungkin salah ingat karena selama ini hanya ada sedikit orang yang pernah memberinya perhatian. Hanya tindakan kecil, tetapi ketulusannya benar-benar dapat Niyu rasakan.
Rasa hangat dari dada itu perlahan merambat ke kerongkongan dan membuatnya sedikit kesulitan menelan ludah. Ketika sampai di mata, rasa hangat itu mencair dan pandangan Niyu pun berkaca-kaca. Gadis minim ekspresi itu segera membungkuk ke bawah meja, seolah sedang mencari sesuatu supaya Tika tidak melihat saat air matanya jatuh.
Tika yang tidak tahu Niyu hanya berpura-pura pun menyeletuk, "Nyari apaan?"
Setelah mengatur napas, Niyu membalas dengan suara sedikit serak, "Pembatas buku jatuh. Mandi sana, ntar masuk angin."
"Lu beneran kagak apa-apa, kan?"
Niyu yang sudah menyeka mata dan berhasil memaksa hatinya untuk tenang, perlahan meluruskan badan lalu menatap sahabatnya. "Enggak. Tadi aku ketiduran di perpustakaan."
Jawaban yang cukup meyakinkan, tetapi tidak lantas membuat Tika percaya begitu saja. Niyu memang sudah beberapa kali tertidur di perpustakaan, tetapi terjadi di luar jam sekolah. Selain itu, Niyu paling anti membolos. Jadi, rasanya tidak mungkin dia bisa sampai selalai itu.
Tika menatap Niyu lekat dan samar-samar bisa melihat bekas sembap, tetapi memutuskan untuk tidak membahasnya. Pikirnya, Niyu adalah pribadi yang sangat tertutup dan berhati-hati dalam bergaul. Bahkan selama empat bulan ini, Niyu tidak pernah bercerita tentang dirinya sendiri maupun keluarga dan temannya pun cuma dua. Dengan begitu, Tika hanya ingin menghormati privasi sahabatnya. Lagi pula, bukan Niyu namanya kalau tidak misterius.
Tika pun tertawa kecil sambil menyentil dahi sahabatnya. "Dasar. Bikin orang kepikiran aja, lu."
"Melisa mana?" Niyu bertanya sambil mengelus dahi yang baru saja disentil.
"Biasalah," Tika berbalik dan membuka kabinet susun, "di kantin bantu ngurusin paketan anak-anak."
Niyu mengangguk, lalu kembali fokus pada bukunya. Ketika Tika pamit pergi mandi, Niyu pun hanya menanggapi dengan anggukan lagi. Kembali sendirian, gadis manis dengan raut wajah tegas itu pun dengan senang hati menenggelamkan diri dalam hening.
Oktober hampir berakhir, hujan pun lebih sering membasahi Kota Malang, mendung juga kerap membuat langit lebih cepat gelap. Pukul lima sore, biasanya di lapangan olahraga masih ada siswa putra yang main sepakbola—atau gabungan siswa-siswi main bola voli. Hujan deras telah membuat aktivitas di luar ruangan lumpuh total.
Para siswi yang baru kembali ke asrama pun banyak yang enggan mandi. Setelah berganti pakaian, mereka lebih memilih untuk meringkuk di bawah selimut.
Beda lagi dengan Melisa. Orang lain kedinginan, dia malah berkeringat setelah menyortir bertumpuk-tumpuk paketan yang ada di gudang kantin. Semua itu adalah usaha sampingan ibu penjaga kantin, membantu menerima barang belanjaan online siswa-siswi—terutama yang COD.
"Buk, udah selesai ni misah-misahinya. Gue mau balik dulu!" Melisa berteriak sembari membenahi kerudungnya yang sedikit miring.
"Nggak nunggu hujan reda dulu apa?!" Perempuan, kisaran usia tiga puluh tahun, yang sedang sibuk di dalam kantin balas berteriak.
"Nggak usah, Buk! Gue melipir lewat teras sekolahan aja! Aman, nggak bakal kehujanan!"
"Hati-hati licin, loh, Mel!" Wajah si ibu nongol di pintu belakang, Melisa mengacungkan jempol dan ngeloyor pergi.
Ketika beberapa staf yayasan yang sedang berteduh di kantin melihat gadis itu, seruan-seruan penuh perhatian yang disertai lambaian tangan pun seolah menantang berisiknya hujan.
Setelah menyeberangi gang kecil berkanopi, Melisa sampai di lantai satu gedung sekolah. Dia melangkah perlahan di koridor yang lantainya basah dan nyaris terpeleset, untungnya masih sempat menyambar tiang beton.
"Astaghfirullahal'adzhim. Hampir aja ...." Dia mengelus dada dan mengembuskan napas kasar, lalu kembali melangkah lebih hati-hati.
Untuk sampai ke gedung asrama dia harus melewati aula yang lengang. Kursi-kursi yang beberapa hari lalu digunakan untuk seminar belum diringkas, Melisa melirik ke sana dan bergidik.
Bujug, kayak tempat pertemuan makhluk halus aja. Astaghfirullah, gue mikir apaan, sih?