"Ini di mana?"
Niyu celingak-celinguk. Di sekitarnya hanya ada kabut tebal mirip uap es dalam lemari pendingin, terasa beku hingga ke tulang, tubuh pun menggigil dan bibir membiru. Dia mendekap diri erat-erat sampai postur tubuhnya tampak menciut dan ringkih.
Dia ingat betul barusan masih ada di kamar sedang mencengkeram lengan Melisa. Lalu, bagaimana bisa tiba-tiba ada di sini? Di tempat lengang, dingin nan mencekam, sendirian dan .... Dia menelengkan kepala dan suara ketukan yang tadinya samar-samar terdengar semakin jelas.
Niyu tidak yakin, tetapi di telinganya suara itu mirip seperti sepatu hak tinggi beradu dengan lantai. Dia kembali menoleh ke sana kemari, sayangnya tidak mendapati siapa pun atau apa pun.
Ini nggak baik. Naluri berbisik, kakinya pun langsung melangkah mundur. Namun, suara benda patah karena terinjak membuat Niyu seketika mematung.
"Ranting?" gumamnya dengan bibir gemetar, lalu telapak kaki tanpa alas pun mengkonfirmasi bahwa pijakannya bukan lantai keras, melainkan tanah berpasir. Itu artinya, bahkan bakiak pun tidak mungkin menimbulkan suara ketukan di sini.
Niyu menekan dada yang terasa sesak dan nyeri karena jantungnya berdetak tidak karuan. "Aku nggak boleh di sini."
Niat hati ingin pergi, tetapi lututnya gemetar dan terasa lunak. Jangankan melangkah, beringsut pun Niyu tidak mampu. Sekarang, telapak kakinya malah seperti kian tebal dan kebas. Dia bergeming dengan tubuh menggigil seperti penderita tremor.
"Akhirnya bertemu lagi, Nduk."
"Astaga!"
Perempuan berwajah pucat tiba-tiba berdiri di sampingnya dan menyapa, kaki Niyu yang mati rasa pun refleks melompat ke samping, lalu mundur sempoyongan dan akhirnya membentur dinding yang semula tidak terlihat.
"Kamu!" Meskipun suara Niyu bergetar, tetapi nadanya tegas seperti sedang menghardik.
"Ya, aku ...." Senyum perempuan itu tampak kaku di bibir yang kedua ujungnya nyaris mencapai telinga. Langkahnya yang memperdengarkan suara ketukan tidak masuk akal pun berhenti tepat di depan Niyu. "Kamu ndak mungkin lupa pada ibu, kan, Nduk?" Suaranya terdengar lembut mengiba, sampai-sampai hati Niyu pun turut nelangsa.
Sayangnya, Niyu bukanlah amatiran jika perihal makhluk gaib. Sejak awal dia sudah tahu, perempuan ini adalah sosok hantu mimpi yang dulu sering mengusik tidurnya. Niyu menatap nanar wajah pucat itu lekat-lekat dan menghardik, "Pergi! Jangan lagi membo-membo jadi ibu, hantu sialan!"
Kali ini, perempuan itu berbicara sangat kaku; pelan, kata demi kata tanpa intonasi. "Tapi ... sepertinya ... kamu ... perlu ... diingatkan ...."
"Nggak perlu! Aaa!" Niyu menjerit histeris dan menutup mata rapat-rapat ketika wajah perempuan itu tiba-tiba berubah menyerupai ibunya. Bahkan aroma busuk pun datang dan menusuk hidung. "Hentikan! Jangan gunakan wajah ibuku!"
Lutut Niyu meleyot seperti jeli, setelah menjerit sejadi-jadinya langsung ambruk bersimpuh. Dia tidak takut pada hantu mana pun, tetapi tidak sanggup menanggung gejolak di hati jika hantu itu mengambil rupa sang ibu. Sekarang tubuh Niyu serasa lumpuh, terus menggigil, tetapi hanya untuk menggerakkan jari saja tidak bisa.
"Buka matamu dan lihat wajah ibumu ini, Nak." Perempuan itu mencengkeram dagu Niyu dan memaksanya mendongak.
Niyu menggumamkan penolakan berulang-ulang, "Nggak mau. Nggak mau. Nggak mau." Kemudian melolong histeris, "Kamu bukan ibu! Pergi! Pergiii!"
Perempuan itu terkikik tepat di atas wajah Niyu dan aroma busuk pun semakin menyengat. "Kamu ndak kangen sama ibu ini, Nduk?"
"Kamu bukan ibuku!" Niyu hanya bisa meraung karena ketakutan terbesar itu telah membuatnya lumpuh.
"Lihat ibu, anak durhaka! Tatap mata ibu!" Perempuan itu meninggikan suara dan menjambak rambut Niyu sampai kepalanya mendongak lebih tajam. "Buka matamu!"