Langit yang menangis semalam suntuk seakan belum tuntas berkabung, sudah pukul tujuh pun masih menyisakan mendung. Bahkan Puncak Gunung Kawi yang biasanya hijau menyegarkan mata di pagi hari, sekarang juga masih diselimuti kabut tebal.
Para siswi itu sudah melapisi seragam sekolah dengan kardigan dan jaket, tetapi masih mendekap diri atau saling berangkulan erat dengan teman saat berjalan di tempat terbuka. Angin berembus, beberapa siswi pun bersin-bersin karena menghirup udara berkabut dan lembab.
"Ah sial, gatel banget hidung gue." Setelah bersin tiga kali beruntun, Tika mengeluh dengan suara sedikit sengau sambil menggosok hidung yang sudah memerah.
Melisa yang berjalan di sampingnya menyahuti dengan suara parau,"Ntar ke klinik. Tenggorokan gue juga sakit banget buat nelen." Dia segera mengetatkan kerah jaket ketika angin berembus sedikit kencang. "Dinginnya bener-bener astaghfirullah ...."
Keduanya baru selesai mandi dan sedang dalam perjalanan kembali ke kamar. Koridor asrama terlihat sangat sibuk dengan para penghuninya yang hilir mudik; ada yang baru selesai mandi, ada yang sudah bergegas hendak turun sarapan dan berangkat ke sekolah, ada juga yang baru kembali dari menjalankan piket.
"Eh, bujug, Niyu mana?" celetuk Melisa saat mendapati kamar sudah kosong, padahal biasanya mereka saling tunggu untuk berangkat bersama.
Tika mengerling meja belajar Niyu dan tas sekolah yang biasa digantung di samping sudah tidak ada. "Udah berangkat kayaknya," balasnya sambil berjalan ke balkon untuk menggantung handuk.
"Sekalian punya gue!" seru Melisa dan langsung melempar handuknya.
"Ish, sialan lu." Si kacamata menggerutu karena handuk itu mendarat di wajahnya.
"Hehehe, sorry bestie." Melisa cengengesan lalu menghadap ke cermin untuk merapikan kerudung. "Lu ngerasa nggak, sih, kayaknya dia lagi ngehindar, deh?"
"Kenapa, sih, mesti kayak gitu?" Nada bicara Tika terdengar emosional. Dia menyisir rambut seperti sedang menyikat kepala, merapikan alat rias dengan suara gaduh karena sedikit dibanting-banting.
Melisa menggodanya, "Enggak banting-banting barang juga kali, Ka."
"Kesel gue." Setelah menyimpan beberapa barang dalam kabinet susun, Tika menutupnya dengan kasar. "Udah lama temenan juga. Kalo ada masalah kenapa kagak cerita aja, sih?"
"Ya, mau gimana lagi?" Melisa mengangkat bahu tak berdaya. "Dia kan emang tertutup banget orangnya. Mungkin belum percaya-percaya banget sama kita."
"Ish." Tika segera menyampirkan tas sekolah di bahu kanan setelah selesai merapikan diri, lalu mendelik pada Melisa yang masih berkutat dengan kerudungnya. "Lu udah belum, sih? Udah rapi itu, mau diapain lagi? Buruan turun cari Niyu, lah."
"Astaghfirullah, Ka, sabar. Kagak perlu makan orang juga kale." Melisa berseloroh sembari buru-buru menyambar tas sekolah yang tergantung di tiang tempat tidur, lalu mengejar Tika yang sudah berjalan lebih dulu. "Bujug, tungguin gue!"
"Lari!" Tika menyahut tanpa menoleh, langkahnya pun lebar-lebar dan cepat, membuat Melisa yang kakinya jenjang harus berlari-lari kecil.
Aksi si jangkung dan si pendek yang terburu-buru seakan takut kehabisan jatah sarapan, menarik perhatian siswi-siswi lainnya.
"Eh, aku tadi lihat Niyu udah turun." Seseorang memberi informasi tanpa diminta. Melisa mengucapkan terima kasih, sedangkan Tika hanya tak acuh.
"Tumben nggak barengan."
"Mungkin habis tengkaran."
"Ah, nggak mungkin."
"Apanya yang nggak mungkin kalau ada kejadian macam semalam?"
"Bagus, deh, kalau mereka udah sadar Niyu tuh kayak gimana?"
Mereka meyakini asumsi tanpa bukti sebagai kebenaran dan menyimpulkan sesuai yang mereka sendiri percayai. Opini menyesatkan pun bergulir liar membuat mereka tidak lagi merasa sungkan untuk berkomentar.
Demi memuaskan hasrat bergibah, orang-orang itu bahkan rela bergerombol di tempat-tempat terbuka, padahal tubuh mereka menggigil. Cerita yang diawali fakta pun semakin ke sini justru kian jauh dari aslinya, terlalu dibumbui dan dibesar-besarkan. Obrolan terdengar kian seru sekaligus tidak masuk akal.
"Ish, ngeri tauk. Lengan Melisa dicengkram nggak bisa dilepas. Kulitnya sampe bolong berdarah-darah ketusuk kuku Niyu."
"Masa, sih? Hiii, ngeri amat."
Niyu yang tengah melangkah santai di pelataran sekolah dengan kedua tangan masuk ke saku jaket, bisa mendengar setiap kata yang mereka bisikan dengan jelas. Bagaimana tidak? Jika faktanya, mereka seperti saling berbisik di depan pengeras suara.