Niyu pikir, kejadian di toilet tadi tidak akan ada episode lanjutan. Sesungguhnya, dia sangat berharap itulah yang terjadi karena malas memperpanjang masalah. Sayang sekali, harapan itu sirna bersama datangnya utusan kepala sekolah kisaran lima belas menit kemudian.
Di kantor kepala sekolah yang hening, Niyu dan kedua sahabatnya duduk di sofa panjang. Sementara itu, Bara dan Erika masing-masing duduk di sofa tunggal—berseberangan dan berhadapan. Seorang pria yang seluruh rambutnya telah memutih dengan punggung sedikit bungkuk, berdiri menatap bergantian pada mereka yang duduk di sofa panjang.
"Satu dipanggil, tiga yang datang," gumamnya, bicara lebih pada diri sendiri lalu mengembuskan napas pasrah disertai gelengan samar. "Kalian benar-benar satu paket, seperti yang dikatakan orang-orang, ya ...."
Daripada kesal atau marah, sikap pria itu cenderung lebih seperti seorang kakek yang tidak berdaya menghadapi kekompakan cucu-cucunya. Nama pria tersebut adalah Prasat Anggoro, bukan kepala sekolah, melainkan pendiri Yayasan Rumah Bahagia yang menaungi SMA Bina Putra-Putri Bangsa.
Merespons ujarannya, Melisa tersenyum canggung yang terkesan cengengesan. Tika menarik kedua sudut bibirnya samar, pun hanya sekilas dan justru membuat kesan kaku di wajahnya kian jelas setelah lengkung samar itu hilang. Sementara Niyu tidak bereaksi sama sekali, tatapan terpaku pada lantai seakan tengah berada di dunianya sendiri.
Prasat Anggoro menatap gadis berwajah serius itu lebih lama dengan sorot mata lembut, kemudian berubah tajam ketika beralih pada Erika. "Jelaskan, kenapa kamu merundung adek kelasmu?!" Suaranya tidak lantang, tetapi tegas dan penuh penekanan.
"Kek, aku—"
"Di sekolah aku bukan kakeknya siapa-siapa!" tegas Prasat Anggoro, membuat wajah Erika langsung memerah dan sempat megap-megap sebelum akhirnya menutup mulut rapat-rapat.
Melisa dan Tika refleks bertukar pandang dengan mata sedikit melebar. Mereka tidak menyangka bahwa Erika adalah cucu pemilik yayasan dan setelah tahu, prasangka buruk pun tidak bisa dielakkan. Mereka pikir, pantas saja Erika begitu arogan ternyata punya hak istimewa.
"Aku cuma mau kasih dia pelajaran!" Erika tiba-tiba membentak dengan suara gemetar, kedua tangan yang mengepal di atas paha pun tampak seperti terkena serangan tremor. Matanya yang berkaca-kaca menatap Niyu sarat akan kebencian. "Gara-gara dia, Bara sama Gerhana—"
"Dan sejak kapan itu jadi urusanmu, huh?!" Bara memotong sengit. Dia yang semula malas-malasan—duduk bersandar dengan kedua lengan terkulai di bantalan tangan sofa—langsung duduk tegak.
"Ta-tapi kamu, kan, minta aku—"
"Apa itu sama?!" Lagi-lagi Bara memotong tegas sembari mencondongkan badan ke depan.
Erika spontan menarik diri ke belakang hingga menyandar seolah menjauh dari jangkauan, padahal dengan jarak yang ada, Bara tidak mungkin bisa menjangkaunya.
"Ta-tapi ... a-aku pikir—"
"Nggak usah cari-cari alasan!" Bara meninggikan suaranya, membuat Melisa dan Tika menjengit, bahkan tubuh Erika sampai terlonjak saking kagetnya. "Eyang harus hukum dia! Nggak boleh enggak tegaan!"
Melisa dan Tika kembali bertukar pandang, sama-sama terkejut mendengar fakta bahwa Bara ternyata juga cucu pemilik yayasan.
Dalam situasi yang rasanya seperti menguras oksigen, Melisa masih sempat berpikir bahwa pak tua itu pilih kasih. Bagaimana tidak? Dia tegas melarang Erika memanggil hubungan kekerabatan saat di sekolah, tetapi pada Bara, bahkan menegur pun tidak. Apakah ada kemungkinan beliau juga akan tidak adil pada Niyu?
Di saat yang sama Tika pun tengah beropini, bahkan opininya terasa sedikit lebih dalam. Petinggi yayasan datang untuk melakukan inspeksi atau sekadar berkunjung adalah wajar, tetapi jika kebetulan yang seperti ini terjadi. Bukankah terasa tidak wajar?
Apakah Prasat Anggoro sengaja datang karena yang terlibat masalah adalah cucu-cucunya? Apa itu berarti, drama tentang yang berkuasa menindas yang lemah juga akan terjadi di sini? Baru memikirkannya saja darah Tika serasa sudah berubah menjadi lahar panas yang membakar dada dan membuat ubun-ubun berasap.
Mengabaikan etika bahwa menatap intens seseorang itu tidak sopan, apalagi orangnya sudah tua, kedua siswi asal Depok itu menatap lekat Prasat Anggoro. Dahi mereka pun masih mengerut karena belum usai berasumsi dalam hati. Mereka bahkan sama-sama berpikir untuk melepaskan ikatan dinas dan bersekolah di tempat lain jika ketidakadilan itu juga terjadi di sini.
"Apa pun alasanmu, memangnya dibenarkan menyakiti orang lain macam itu?" Prasat Anggoro menatap tajam, seolah ingin membaca kedalaman hati dan pikiran Erika.
Melisa dan Tika kembali bertukar pandang. Beban hati mereka sedikit berkurang ketika mendengar perkataan Prasat Anggoro yang berkesan menyudutkan Erika. Mereka berharap pak tua itu tidak akan mengecewakan dalam mengambil sikap.