Permainan Maut Warisan

M.G. Rosana
Chapter #8

PAVILIUN


Yayasan Rumah Bahagia adalah panti sosial yang khusus menampung para lansia. Di antaranya ada yang terlantar dan sebatang kara ditampung dengan cuma-cuma. Ada pula yang dititipkan oleh keluarga dengan membayar, biasanya keluarga mereka juga sekaligus menjadi donatur.

Kompleks para lansia itu bersebelahan dengan kompleks sekolah dan asrama. Mengunjungi mereka merupakan salah satu tugas ekstra bagi siswi dan dilakukan hanya sekali dalam seminggu, bergiliran.

Di kompleks lansia, terdapat satu paviliun mewah terletak di belakang, sudut terjauh dari pintu gerbang. Di kedua halaman paviliun, samping dan belakang adalah taman bunga, sedangkan di halaman depan hanya ada hamparan rumput hijau segar.

Setelah kemarin diguyur hujan deras, seharian ini cuacanya cerah. Sekarang sudah hampir pukul enam petang, tetapi langit masih tampak terang dihiasi awan-awan putih cemerlang.

Tika yang sedang menuntun seorang nenek berjalan-jalan di samping salah satu asrama, hanya iseng saja melihat ke arah paviliun mewah itu dan tanpa sengaja melihat sekelebat sosok familier masuk ke sana.

Kok mirip Kak Bara, ya. Namun, dia juga tidak begitu yakin karena hanya sekilas. Lagi pula, buat apa Bara ada di sini? Kan, siswa putra tidak ada kegiatan ekstra mengunjungi lansia.

Yang tidak Tika ketahui, sebagai cucu Prasat Anggoro, Bara memiliki hak istimewa di sini dan sosok yang dilihatnya tadi memang dia. Remaja jangkung itu tengah membuka pintu salah satu kamar dan langsung tenggelam dalam gelap. Dia berniat menekan saklar, tetapi ....

"Jangan nyalakan." Suara yang mirip dengan suaranya, menghardik dari sudut yang paling gelap.

Bara membiarkan pintu tetap terbuka supaya ada cahaya masuk. Sosok si pemilik suara duduk di kursi roda membelakangi pintu. Bara menghampiri dan berdiri di sampingnya.

"Sampai kapan mau terus begini?" Setelah bertanya, Bara menghela napas kasar seolah ingin membuang resah dari hati.

"Bukannya ini yang kamu mau?" Suara orang ini memang sangat mirip dengan suara Bara, tetapi terasa jauh lebih datar juga tak acuh, seperti orang yang sudah pasrah, pun terkesan dingin yang seakan merefleksikan suasana hatinya.

Bara membalas dengan nada mengecam, "Aku nggak pernah nyuruh kamu gelap-gelapan kayak gini, kan?"

"Apa bedanya? Tempat ini terlalu mewah untuk dianggap penjara. Aku nggak mau lihat, muak."

Suasana terasa lengang ketika keduanya terdiam. Bara tidak ingin memperpanjang topik pembicaraan yang pada akhirnya hanya akan memposisikan dirinya sebagai antagonis.

"Erika mengacau," ujar Bara kemudian dan tanpa sepengetahuannya jemari orang itu perlahan mengepal di atas pangkuan yang ditutup kain.

"Bukan urusanku."

"Dia mengatakan semuanya pada Niyu. Rencana kejutan nggak bisa lanjut."

Lihat selengkapnya