Tugas sekolah yang harus segera dikumpulkan, memaksa Niyu dan kedua sahabatnya tetap terjaga di malam yang sudah larut. Dengan begitu, setidaknya Niyu juga bisa melupakan keresahan hatinya perihal suara bisikan itu barang sejenak.
Ketiganya sibuk dengan laptop masing-masing. Niyu duduk di kursi, Tika di atas tempat tidurnya, sedangkan Melisa yang malas naik ke tempat tidurnya sendiri menyabotase milik Niyu. Dalam hening, suara mengetik pun terdengar intens hampir dari setiap kamar di lantai tiga ini.
Tengah fokus, Melisa dikagetkan oleh getaran dari ponselnya yang diletak dekat lutut.
"Ish." Dia mendesis kesal dan melirik malas, tetapi setelah melihat nama si pemanggil matanya langsung melebar. "Kak Bara? Ngapain malam-malam gini?" gumamnya dengan alis bertaut sembari membuka sambungan. "Halo ...."
"Ah, syukurlah belum tidur. Mel, sorry ganggu malam-malam." Mel adalah panggilan umum untuk Melisa, sedangkan Sa hanya Niyu dan Tika yang menggunakannya.
Melisa otomatis melirik beker dan ternyata sudah setengah sebelas. "It's ok. Emang ada apa, sih, Kak?"
"Niyu pasti juga belum tidur kan?"
"Iya, sih."
"Aku pengen ngomong sama dia. Tolong, Mel. Please."
Melisa mengerling Niyu yang tetap fokus. "Oke, tapi kalau dia nolak, gue nggak bisa maksa, ya, Kak ...."
"Oke."
Melisa bangun dan mengulurkan ponselnya pada Niyu. "Trima, nih."
"Siapa?" tanya Niyu tak acuh.
"Udah terima aja."
Niyu menerima ponsel Melisa tanpa curiga. Namun, begitu melihat nama yang ada di layar, langsung saja melemparnya kembali ke si pemilik. Setelah itu, kembali menekuni laptopnya.
Melisa mendelik dan menggerutu, "Dasar, kulkas nggak ada pintunya." Kemudian bicara pada Bara, "Dia nggak mau trima, Kak. Ish, kalian yang musuhan kenapa gue yang repot, sih?"
"Sorry, Mel." Bara tertawa canggung. "Kalau gitu buka loudspeaker dech."
Melisa langsung melakukan yang Bara minta. "Udah, langsung ngomong aja, Kak."
"Thanks, Mel." Bara berdehem dua kali, lalu lanjut bicara, "Oke. Yu, sebenarnya aku juga nggak yakin kamu bakal datang, tapi nggak ada salahnya juga aku sampein. Aku batalin acaranya, jangan pernah datang ke taman belakang sekolah. Sorry, aku sempat lupa soal ... itu. Aku benar-benar minta maaf."
Di kalimat terakhir, suara Bara terdengar lebih lirih dan parau, selayaknya orang yang sungguh-sungguh merasa bersalah rela merendahkan diri demi mendapat maaf yang tulus. Namun, Niyu terus saja mengetik seolah tidak mendengar. Bara pun tahu diri dan segera memutus sambungan setelah mengucapkan terima kasih pada Melisa.
Tika berhenti mengetik dan menoleh pada Niyu. Entah kenapa sekarang dia merasa bersimpati pada Bara, padahal tadi pagi, sewaktu di kantor kepala sekolah masih merasa ada yang tidak beres pada cucu Prasat Anggoro itu. Sejujurnya, dia merasa suara Bara barusan jauh lebih tulus sehingga hatinya tergerak. Benar-benar seperti manusia dengan dua wajah, pikirnya.
"Yu, lu emang kagak ngerasa udah kelewatan, ya?"
"Memangnya aku kenapa, sih?" Sambil terus mengetik, Niyu malah balik bertanya tak acuh, tetapi sengit. Kata-kata Tika yang seakan menyalahkannya, membuat hati Niyu dongkol. Sekarang dia sedang mencoba menenangkan diri. Ingat Yu, dia orang yang udah mau terima kamu apa adanya. Jangan sampai bisikan gaib itu jadi kenyataan.
"Gue kagak tau apa masalah lu sama Kak Bara. Gue bisa lihat lu kagak bahagia, tapi gue kagak rabun sampai ngira Kak Bara itu bahagia. Emang kagak bisa ya, sesama orang yang kagak bahagia bicara dari hati ke hati buat nyelesain masalah? Tapi, terserah lu, lah. Gue yakin lu bukan orang picik." Setelah itu, Tika pun kembali melanjutkan aktivitasnya seperti tidak pernah mengatakan apa-apa. Dia sungguh tidak tahu beban batin Niyu yang sesungguhnya.
Akhirnya Niyu pun terpengaruh. Dia berhenti mengetik dan termenung, tatapannya terpaku pada layar laptop dengan jemari mengepal di atas keyboard.
Gue bisa lihat lu kagak bahagia, tapi gue juga kagak rabun sampai mengira Kak Bara itu bahagia.