Permainan Maut Warisan

M.G. Rosana
Chapter #10

PERJUMPAAN


Akhirnya selesai. Niyu mematikan laptop lalu mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk meregangkan otot sambil menguap lebar. Sudah lewat tengah malam, tanpa hujan dan angin, suara dengkur dari kamar sebelah terdengar cukup jelas. Membuat Niyu pun ingin cepat-cepat merebahkan diri dan meringkuk di bawah selimut.

Matanya yang biasa jernih dan tajam sudah terlihat sayu, wajah pun kuyu dan lagi-lagi tidak mampu menahan kuap. Kedua tangannya secara alami bertumpu pada tepi meja ketika hendak berdiri, tetapi alih-alih segera bangkit, dia malah tertegun sambil menelengkan kepala.

"Niyu ...." Terdengar suara laki-laki memanggil.

Awalnya sayup-sayup, Niyu bahkan sempat mengiranya hanya suara angin yang karena fenomena tertentu jadi menyerupai orang memanggil. Namun, suara itu sekarang terdengar jelas meskipun sepertinya berasal dari kejauhan. Niyu tidak tahu dari mana sumbernya, tetapi sudah bisa menduga bahwa itu pekerjaan makhluk halus.

Sambil menekan pangkal hidung dia mengembuskan napas kasar, lalu menggumam lelah, "Ada-ada aja. Nggak usah aneh-anehlah ...."

"Niyu ...." Suara itu terdengar lagi, tetapi Niyu tidak hirau.

Setelah melipat laptop, Niyu langsung berdiri dan balik badan. Tepat pada saat itulah embusan udara hangat menerpa, tubuhnya seketika mematung dengan tatapan kosong dan wajah tanpa ekspresi.

"Niyu ... datanglah kepadaku, Nak." Suara itu terdengar lembut selayaknya membujuk, tetapi bagi Niyu yang sedang berada dalam kendalinya terdengar seperti perintah mutlak.

"Jangan dengarkan dia, Yu! Sadar, Yu, sadar!" Suara nurani Niyu memperingatkan.

Meskipun di dalam hati masih ada keinginan untuk menolak perintah, tetapi keinginan itu tidak mampu menjangkau pusat kendali tubuh yang telah disabotase oleh suara laki-laki tersebut.

"Patuhlah. Ayo, datanglah pada ayah, Anak Baik."

"Niyu, sadar, Yu! Niyuuu!"

Seruan peringatan terperangkap di dalam pikiran dan Niyu hanya merespons perintah si pengendali. Dia segera berbalik menghadap pintu yang terbuka sendiri, lalu melangkah ke luar.

"Niyu, jangan!" Suara dari dalam dirinya kembali mencegah. Meskipun ingin menuruti, tetapi Niyu tidak mampu menghentikan kakinya yang terus bergerak mengikuti perintah suara laki-laki itu.

Seperti orang yang berjalan dalam tidur, Niyu melangkah tanpa ragu di bawah bayang-bayang pepohonan rindang yang jatuh pada dinding koridor. Kaki tanpa alas menapak lantai basah nan dingin tanpa merasakan sensasi apa pun. Menuruni anak tangga demi anak tangga pun akurat meski tatapannya terus menerawang ke depan.

"Berhenti, Yu! Berhentiii! Aku mohon lepaskan aku! Sekarang ini kamu benar-benar butuh aku, Yu! Aku mohon dengarkan aku kali ini saja!"

Seruan-seruan frustrasi dari lubuk hati Niyu mengundang tawa si pengendali. Setelah terbahak-bahak suara itu mencemooh, "Anak baik, sayangnya bodoh. Menyegel satu-satunya makhluk yang bisa menghalangi aku cuma demi teman-teman manusia. Naif sekali kamu, Nak. Nggak sadar sedang dijerumuskan."

Suara nurani Niyu gusar dan menantang, "Dasar buntung pengecut! Kalau berani, ayo, suruh dia buka segelnya!"

"Diamlah, sialan!" Sisi lain Niyu merangkak keluar dari sudut hati yang paling gelap dan menghardik.

"Niyuuu! Nggak boleh, Yu. Jangan biarkan dia nguasain kamu! Percaya sama aku! Bebaskan aku, Niyu. Sekarang ini cuma aku yang bisa bantu kamu!"

"Kubilang diam, ya, diam! Dasar pembohong sialan, berisik banget!"

Lihat selengkapnya