Permainan Mematikan: Narsistik

Komandala Putra
Chapter #1

Bab 1: Rantai

"Tolooong! Tolooong! Tolooong!"

Teriakan itu menghantam telinga Citra. Napasnya tersentak. Matanya terbuka. Kelopaknya berat. Pandangannya kabur.

Bau logam mengisi hidung—pekat, bercampur keringat lama yang terperangkap. Rasa pahit memenuhi mulut, liurnya mengental. Lalu, ia merasakan lantai yang dingin dan kasar menempel penuh di punggung.

Tangannya bergerak menyentuh perut. Dada. Cepat. Gemetar. Jari-jarinya menelusuri tulang iga, mencari luka atau apa pun. Tidak ada yang basah. Tidak ada yang robek.

Tangannya naik. Karet tebal yang bagian luarnya dilapisi baja mengunci di pangkal leher. Dingin.

Citra mencoba menyelipkan jari di bawah tepi karet, menekan, mencoba memberi ruang—celahnya sempit di bawah rahang. Karet itu keras seperti ban truk—tidak lentur.

Citra menariknya, tapi karet itu terlalu kuat.

Ia menariknya lagi—lebih keras. Tetap tidak bergerak.

Citra menarik napas—dadanya naik turun cepat.

Ia menekan lantai dengan telapak tangan, mengangkat tubuh.

Ruangan berputar. Cahaya pecah. Beberapa detik kemudian, baru fokus.

Ia memperhatikan tangannya—kulit kuning langsat yang tampak memucat di bawah cahaya redup. Lalu, pandangannya turun—pakaian kotak-kotak seperti tahanan melekat di tubuhnya.

Ia menyentuh bagian tengkuknya. Karet itu terhubung dengan rantai besar dan ada gembok baja pada rantai itu.

Ia meraba gembok itu dan merasakan lubang kuncinya.

Ia menoleh ke belakang. Rantai itu masuk ke lubang kecil yang ada di lantai.

Citra menarik rantai itu sekuat tenaga. SREEET!

Lihat selengkapnya