Citra melirik Rasmi—gadis itu menunduk, jari-jarinya saling mengunci.
Citra mengangkat tangan."Saya setuju.”
Beberapa detik kemudian, Setyo mengangguk.
Harto mengacungkan jempol.
Novan menebar pandangan ke arah mereka yang belum menjawab.
Sebuah tangan terangkat perlahan, ragu—Rasmi.
Novan tersenyum. "Baik,” ia menoleh ke arah Citra, “kita mulai dari Bu dokter.”
Citra memalingkan wajah ke arah Novan, mulutnya terbuka—
"Bu dokter terkenal di medsos,” potong Novan. Ia tersenyum, mengulurkan tangannya. “Silakan.”
"Gua duluan,” sela Aries. “Gua Bripka Aries. Yang jelas gua bukan narsistik. Yang nuduh gua narsistik, gua pecahin kepalanya."
Aries tersenyum manis pada Helen. Tatapannya menyapu wajah hingga leher wanita itu—lalu menggigit bibir.
Helen membalasnya dengan senyum genit, bahunya sedikit miring. “Makasih, Pak polisi”.
Rahang Harto mengeras. Lalu, ia menoleh ke arah Citra.
Citra yang menyadari tatapan itu ikut menoleh. Mata mereka bertemu—tak berkedip. Harto mengangguk kecil.
Citra melempar pandangan ke arah Rasmi yang sedang memperhatikan mereka berdua—Rasmi menunduk.
"Wajah gua udah nggak asing lagi di TV,” kata Helen.
Setyo mendengus. "Penyanyi. Suara seadanya—"
"Lu ganggu Helen, lu berurusan sama gua,” potong Aries.
Helen menoleh ke Aries, tersenyum lebar. Ia memainkan ujung rambut—lalu menoleh ke Setyo dengan tatapan mengejek.
Setyo membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia membersihkan tenggorokan. “Baik….” Nada suaranya berubah. Lebih lembut. Lebih tertata. “Nama saya Setyo Hadi. Publik biasa memanggil saya Mas Guru.”
Beberapa orang menoleh. Yang lain tetap diam.
Setyo merapatkan kedua telapak tangannya di dada, lalu mengangguk kecil. “Saya guru spiritual dengan ribuan murid.”
Rasmi menatap Setyo—tak berkedip.
Setyo menoleh ke sekeliling ruangan sebelum berhenti. “Saya juga penulis puluhan buku spiritual.” Ia menatap Helen, “Love and light.”
Setyo menoleh ke Rasmi, tersenyum. Tangannya terulur, mempersilakan.
Rasmi tak segera bicara—menunduk.
Novan menatap Rasmi, tersenyum. “Silakan… giliran kamu.”
Rasmi mengetuk-ngetukkan jempolnya ke jari telunjuk. "Saya Rasmi,” kata gadis berlesung pipi itu akhirnya. Ia menoleh cepat ke sekeliling, mulutnya terbuka, lalu tertutup kembali.
Novan mengangguk, tangannya mempersilakan.
"Saya cuma mahasiswi biasa,” lanjut Rasmi. Ia menoleh ke Setyo. "Saya... pernah baca buku Mas Guru... yang judulnya 'Kosong'.” Ia menunduk. Bahunya sedikit mengeras.
Setyo tersenyum tipis.
Darwin mengangkat kacamatanya. "Bukunya? Itu katalog antara fakta, delusi, dan narsisme spiritual.”
Rasmi merapatkan lutut—tatapannya ke Setyo meredup.
“Campur kepalsuan dengan kebenaran, lalu jual sebagai kebenaran absolut,” lanjut Darwin.
Setyo menarik napas dalam-dalam—lalu mengendurkan bahunya.
Novan buru-buru mempersilakan Harto dengan tangannya.
"Harto. Investor. Pebisnis. Workout-addict." Harto mengangkat telapak tangan kanannya setinggi dada—diam—lalu menjatuhkannya kembali ke paha.
Novan merapikan pakaiannya. "Giliran saya. Saya—"
"Koruptor,” potong Darwin.
Novan tersenyum— sudut bibirnya terangkat, tapi matanya tetap datar. "Saya Novan Permadi, arsitek dan insinyur sipil.”
Sudut bibir Darwin terangkat—bukan senyum.
Novan melirik tulisan “Siapa yang paling penting” sekilas. “Saat ini, saya mengemban amanah sebagai anggota Komisi V DPR.”
Novan mempersilakan Darwin dengan tangannya.
Darwin menatap ke tengah ruangan. "Saya Profesor Darwin Setiadi, Ph.D..” Lalu, ia berbicara singkat dalam bahasa Rusia—cepat, fasih.