Citra melihat Aries menyeringai—bahunya mengendur, napasnya stabil, pandangannya menyapu ruangan.
Helen menatap Citra dan Rasmi sekilas. Alisnya mengerut sepersekian detik, lalu ia menoleh ke Aries dan ikut menyeringai.
Aries merangkul Helen, menarik wanita berhidung mancung dan berkulit putih itu ke sisi tubuhnya. “Selamat datang di dunia nyata, Babe,” bisiknya.
Helen tersenyum kecil. Tangannya sempat ragu di udara, lalu menempel di dada Aries. Tatapannya melintas cepat ke sekeliling ruangan, lalu kembali turun, menghindari mata siapa pun.
“Tapi lu tenang aja. Gua bakal selalu jagain lu. Kita keluar dari sini bareng-bareng,” lanjut Aries.
Helen menyandarkan kepalanya ke dada Aries. Tubuhnya terlihat rileks, seolah kata-kata itu cukup untuk membuat ruangan penuh rantai dan baru saja menelan seseorang ini terasa aman.
Citra melangkah mendekati Darwin. “Anda tadi .…” Ia berhenti. Kata-kata yang ingin ia susun terasa berantakan, “… saya tidak menduga.”
Darwin menoleh, matanya menyipit tipis. “Dia variabel bebas dalam eksperimen ini.” Nada suaranya datar, seperti menyebutkan fakta laboratorium. “Saya tidak heran kalau Anda tidak mampu menyadari itu.”
Citra menahan diri untuk tidak bereaksi.
Darwin melanjutkan tanpa menunggu. “Seragamnya berbeda. Dia juga terlalu tenang dan bersikap layaknya moderator. Bukan respons alami dalam situasi seperti ini.”
“Bajunya sama seperti kita,” sela Setyo.
Darwin mengangkat dagunya sedikit. “Mata saya terlatih mengobservasi detail-detail kecil yang terlewatkan oleh awam.” Ia mendongak, bicara ke udara. “Apalagi yang delusional.”
Setyo tidak menjawab. Ia berbalik dan menjauh, langkahnya pelan tapi tegas.
Darwin melirik ke arah Setyo. Tatapannya turun sepersekian detik lalu naik kembali, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Darwin kembali menatap Citra dan Harto. “Kalian dengar tadi?” katanya. “Katanya ini tempat belajar. Tapi saya tidak bisa dibodohi.”
Darwin menarik napas singkat. “Dalam eksperimen ini, individu yang rusak harus dieliminasi demi kebaikan sistem. Demi kebaikan kolektif. Semacam apoptosis.”
Harto menggeleng. “Saya memang tidak percaya Novan dan semua politisi. Tapi saya tidak mungkin membunuh orang yang belum terbukti bersalah.”
Darwin tersenyum tipis. “Saya baru saja menyelamatkan kita semua.” Setelah jeda sesaat, “You are welcome.”
Citra tidak langsung menanggapi. Matanya bergerak cepat, menimbang ruangan—jarak antartubuh, palu di tangan Aries, dan seringai tipis di wajah Helen.
Citra menatap mata Darwin. “Beliau orang pertama yang mengusulkan kerja sama."
“That’s the point!” kata Darwin sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Citra.
Citra terdiam. Kata-kata Darwin terasa rapi, terlalu rapi. Seolah setiap kalimat sudah punya tempatnya sendiri—tidak menyisakan ruang bagi keraguan.
Darwin berbalik, berjalan menuju dinding. Bahunya tegak. Wajahnya menyimpan sesuatu yang tampak seperti kemenangan.
Sudut bibir Darwin terangkat tipis. Ia berbalik, berjalan menuju dinding. Bahunya tegak. Langkahnya mantap.
“Kalau Pak Novan yang mengatur semua ini,” kata Citra, suaranya lebih pelan, “apa tujuannya? Apa manfaatnya buat beliau?”