Permainan Mematikan: Narsistik

Komandala Putra
Chapter #7

Bab 7: Sebelum Lampu Menyala

Mereka memasuki ruangan berikutnya—jauh lebih gelap, dan terasa lebih luas dari yang bisa langsung dipahami.

Citra menyipitkan mata begitu melangkah masuk.

Cahaya dari ruangan sebelumnya masih menyusup lewat celah pintu yang belum sepenuhnya menutup, membentuk satu garis pucat di lantai—tipis dan terlalu pendek untuk memberi gambaran jelas tentang ukuran ruang ini.

Saat pintu di belakang mereka tertutup otomatis, garis itu lenyap. Gelap langsung mengambil alih, tapi tidak sepenuhnya.

Udara terasa berubah. Lebih tebal. Seolah jarak antarnapas memendek tanpa Citra sadari.

Di sana, beberapa titik cahaya redup bertahan—terlalu jarang, terlalu terpencar—cukup untuk menandai keberadaan orang-orang, namun gagal memberi rasa jarak, arah, atau batas ruangan.

Di salah satu sudut, lampu darurat berwarna kuning berkedip malas, memantulkan bayangan yang bergerak sebentar lalu lenyap. Seolah ruangan ini menolak untuk benar-benar menampakkan dirinya.

Udara di ruangan itu terasa lebih padat—seperti menempel di kulit. Citra berhenti sepersekian detik, memastikan sepatunya menginjak lantai dengan stabil.

“Cari saklarnya! Cepat!” perintah Aries. Suaranya menggema, lalu pecah dan kembali dari arah yang sulit ditentukan.

Rasmi tersentak dan refleks memegang lengan Citra. Genggamannya kuat, dingin.

Dari sudut matanya, Citra melihat Aries menarik sesuatu dari dinding.

Ada bunyi karet berat terseret, lalu bayangan panjang menjuntai di lantai sebelum kembali menghilang ke dalam gelap. Citra tidak sempat memperhatikannya lebih jauh.

“Berpencar!” teriak Aries lagi. Suaranya memantul di dinding ruangan yang luas. Sangat luas.

Bahu Citra menegang. Rahangnya mengeras.

Rasmi mencengkeram lengan Citra. “Kak …” suara Rasmi bergetar, “... aku takut.”

Setyo berdiri beberapa langkah dari mereka. Tanpa berkata apa-apa, ia menggeser posisinya sedikit—cukup untuk berada di antara Rasmi dan suara paling keras di ruangan itu.

Citra menoleh sekilas ke arah kamera CCTV yang berpendar merah samar di sudut ruangan, lalu kembali menatap Rasmi. “Tenang. Kakak bakal jagain kamu. Kamu ikut kakak aja. Kita cari saklar.”

Rasmi mengangguk—patah-patah.

Lihat selengkapnya