Cahaya putih itu datang terputus-putus, terlalu terang saat muncul, lalu lenyap sekejap—sebelum akhirnya bertahan.
Cahaya itu membuat mata Citra perih sejenak. Ia berkedip, menahan dorongan refleks untuk mengalihkan pandangan.
Setelah lampu-lampu stabil, ruangan ini tampak lebih luas dari yang Citra perkirakan. Dinding logam kusam memantulkan cahaya dingin. Di lantai, beberapa bagian tampak basah.
Segera, Citra menoleh ke arah bunyi tabrakan tadi.
Di sana, tubuh Darwin bersandar di dinding. Mulutnya terbuka. Satu tangannya terangkat—menunjuk ke arah Setyo.
Setyo mundur beberapa langkah—menjauhi tubuh Darwin.
Lampu berkedip sekali lagi.
Saat cahaya kembali stabil, dada Darwin turun—tidak naik lagi. Kepalanya jatuh sedikit ke samping. Matanya tetap terbuka. Tangannya jatuh ke sisi tubuh. Detik setelah itu terasa lebih panjang.
Citra tidak bergerak. Tubuhnya masih tegak, seolah menunggu sesuatu yang terbantahkan—napas yang kembali naik, gerakan kecil, apa pun yang bisa menyangkal apa yang baru saja ia lihat.
Citra tidak berkedip, tangannya menggantung di udara.
Beberapa detik kemudian, ia menoleh Rasmi yang berdiri di sampingnya.
Gadis itu berdiri mematung. Kedua tangannya menutup mulut. Matanya membesar, berkaca-kaca, tapi tidak menangis.
Citra menoleh yang lain. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang menjerit. Hanya suara napas—berat, terputus-putus—dari orang-orang yang masih hidup.