Citra dan Rasmi membongkar kardus-kardus di salah satu sudut ruangan, memeriksa bagian dalamnya dengan gerakan cepat namun hati-hati.
Rasmi menghembuskan napas panjang. Tangannya berhenti bergerak. Bahunya naik-turun, seperti menahan tangis.
“Kenapa sih dia jahat banget sama aku?” Tangis Rasmi pecah di tengah kalimat. “Aku kan cuma mau bantu.”
Citra berhenti. Ia menoleh, menatap wajah Rasmi yang memerah. Sekilas, mata Citra bergerak ke arah lensa CCTV di sudut ruangan—titik merahnya masih berkedip pelan.
Citra mendekat. Tangannya menyentuh lengan Rasmi, mengusapnya perlahan.
“Kamu orang baik, Dek,” katanya pelan. “Tapi … nggak semua orang bisa lihat itu.” Ia berhenti sejenak, memilih kata. “Orang kayak Helen belum tentu bisa bantu orang lain tanpa pamrih.”
Citra menepuk pundak Rasmi, lalu tersenyum tipis—senyum yang biasa ia gunakan untuk menenangkan pasien yang ketakutan.
“Tapi nggak apa-apa. Kita bantu orang bukan buat dilihat. Kita bantu orang karena kita tahu itu hal yang benar,” lanjut Citra.
Rasmi mengangguk kecil meski matanya masih basah.
Di sisi lain ruangan, Harto membungkuk, membuka laci besi kosong, lalu menendangnya pelan dengan ujung sepatu. Tangannya menyapu permukaan meja panjang itu, mencari sesuatu.
Helen berjalan ke arah Harto, langkahnya pelan, tangannya seperti mencari-cari sesuatu di meja dekat dinding.
Tubuhnya bergeser ke samping Harto, cukup dekat untuk terdengar tanpa perlu meninggikan suara.
Tubuhnya tetap lurus ke depan. Tangannya tetap mencari-cari sesuatu di meja. “Kamu jauh lebih cowok dibanding Aries,” bisiknya, “yang bisanya cuma teriak-teriak.”
Kepala Harto menoleh sedikit, tubuhnya tetap lurus ke depan. “Kamu mau apa?” Ia kembali memerhatikan meja di depannya.
Helen menggigit bibir bawahnya. “Mau diapa-apain kamu.” Tangannya membuka laci, mengacak-acak isinya.
Jarak Harto dan Helen menyempit, suara mereka lebih pelan—tidak bisa didengar oleh Citra.
Citra memindahkan perhatiannya ke sisi lain ruangan.
Di sana, Setyo berdiri sendiri, memandangi teks Ibrani di dinding. Kepalanya sedikit miring, diam terlalu lama di depan tulisan itu.
Citra dan Rasmi menggeser kardus, memisahkan yang sudah diperiksa dan yang belum.
Tatapan Citra tertuju pada punggung Harto.
Di sana, pria berbahu lebar itu menunduk. Tangannya membuka laci, meletakkan isinya ke atas meja.