“Cari solusinya, woy!” teriak Aries. Suaranya menghantam ruangan dan kembali sebagai gema yang memantul tanpa arah, seperti tekanan yang tidak menemukan sasaran.
Citra mendongak. Ventilasi mengeluarkan uap semakin banyak. Uap itu tidak langsung menyebar; ia turun perlahan, membuat jarak pandang terasa makin sempit.
Citra menyeka keringat dari dahinya. Udara terasa berat di paru-parunya; setiap tarikan napas tertahan sepersekian detik.
Rasmi memegang lengan Citra semakin erat. “Kak, aku takut.”
Citra menatap Rasmi. “Kamu baca lagi tulisan bahasa Rusia. Cari petunjuk.”
Rasmi mengangguk, lalu berbalik.
Harto membolak-balik meja, mencari sesuatu di bawahnya.
Rasmi menatap tulisan berbahasa Rusia. Jarinya terangkat, mengikuti baris huruf asing itu. Mulutnya bergerak.
Citra mengalihkan pandangannya ke sisi lain ruangan.
Di sana, sebuah jalur besi menempel di dinding, dengan tangga logam di salah satu ujungnya. Tulisan berbahasa Ibrani ada di dinding tersebut.
Citra berlari ke arah tangga itu dan menaikinya dengan cepat. Bunyi logam di bawah kakinya terdengar keras. Klong klang klong klang. Ia tidak memperlambat langkah meski paru-parunya menuntut jeda.
Begitu mencapai jalur besi itu, pandangannya menyapu ke sekeliling ruangan, mencoba melihat apa yang mungkin terlewat atau tidak bisa dilihat dari bawah. Dinding-dinding. Meja-meja logam. Mesin-mesin.
Dari atas sini, jarak dan arah menjadi lebih jelas; bayangan orang-orang memendek, dan pantulan cahaya di lantai membentuk pola yang tak terlihat dari bawah.
Matanya terus menyusuri ruangan—berhenti di satu area gelap di sudut ruangan, jauh dari dinding tempatnya berdiri.
Di sana, di antara lantai kusam, ada dua titik yang tampak berbeda.
Citra mempersempit pandangannya, menyingkirkan bagian ruangan lain dari perhatiannya.
“Di sana, terukir dua huruf Yunani: Α di kiri dan Ω di kanan—kontras tajam di antara lantai yang kusam.”
Citra mencondongkan badan sedikit, tangannya memegang pagar, logam itu terasa dingin. “Rasmi!”